Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Rustika mengaku dalam situasi kontingensi seperti saat ini, upaya untuk membangun public trust melalui media tidak bisa dilakukan dengan gaya yang biasa-biasa saja.
“Perlu ada suatu upaya sehingga masyarakat punya mercusuar atau petunjuk arah yang pasti, jelas, dan tajam. apalagi di masa pan demi semacam ini,” tuturnya.
Baca juga : Jamin Stok Di Tengah Corona, Maksimalkan Peran Dewan Ketahanan Pangan
Pesan yang kuat menjadi sesuatu yang sangat penting, terutama pesan kuat yang disampaikan oleh strong leaders. “Hal ini penting mengingat rasa keingintahuan masyarakat sangat besar. Mereka membutuhkan sebuah arahan untuk bertindak, berlaku, dan khususnya akan meyakinkan masyarakat akan masa depan mereka,” ucap Rustika.
Dia menjelaskan, isu Covid-19 tak hanya mendominasi pemberitaan media online, namun juga menarik perhatian publik tanah air. Sepanjang 2 Maret hingga 26 April 2020 terdapat 1.336.363 berita terkait corona dari 2.623 media daring berbahasa Indonesia.
Baca juga : Stok Bahan Pokok Defisit Di Mana-mana, Presiden Sentil Larangan Terbang Pesawat
Data itu dihimpun dengan menggunakan piranti lunak Artificial Intelligence (AI), bertajuk “Corona, Analisis Media Online, Twitter dan Facebook”.
“Bahkan isu Covid-19 lebih banyak diberitakan media jika dibandingkan dengan pemberitaan Pilpres, yang ratarata sekitar 100 ribu berita per bulan,” ungkapnya.
Baca juga : Juni 2020, Pandemi Virus Corona Diprediksi Mereda
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menganggap wajar jika pernyataan Yuri paling banyak dikutip media. Karena media itu substansi beritanya tergantung isu atau masalah yang sedang dominan.
"Pada hari ini tidak ada isu yang lebih dominan selain Covid-19. Bahkan belum pernah ada sejarahnya dalam konteks Indonesia moderen, ada satu masalah yang paling dominan seperti corona,” jujur Qodari melalui sambungan telepon ke pada Rakyat Merdeka, kemarin. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya