Dewan Pers

Dark/Light Mode

Romo Benny: Ambil Alih Ruang Publik dengan Narasi Positif

Jumat, 12 Juni 2020 16:12 WIB
Romo Benny Susetyo (Foto: Istimewa)
Romo Benny Susetyo (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Benny Susetyo menegaskan, radikal bisa diartikan menjadi dua, yaitu positif dan negatif. Namun, radikal yang negatiflah yang berbahaya. 

Hal itu disampaikan Romo Benny dalam Webinar yang diselenggarakan Universitas Kristen Indonesia, Jumat (12/6). Webinar yang bertemakan "Mencabut Radikalisme dan Membumikan Pancasila" ini dihadiri lebih dari 80 perserta, baik dari dalam kampus maupun pihak luar kampus.

"Dalam arti positif, orang yang beriman pastilah radikal. Akan tetapi, radikal dalam hal negatif adalah agama yang dimanipulasi oleh kepentingan politik," jelasnya.

Berita Terkait : Indef: Alih Fungsi Lahan Pertanian Masih Tinggi

Pendiri Setara Institute itu mengatakan, bangsa Indonesia bersyukur ada mempunyai Pancasila. Sebab, dengan Pancasila, persatuan dan gotong royong menjadi ruh bangsa dalam menghadapi semua masalah dan tantangan. "Bangsa Indonesia beruntung mempunyai Pancasila. Ruh bangsa yaitu gotong royong dan persatuan menjadi kekuatan besar dalam melawan semua permasalahan," ujarnya.

Selain itu, Benny menjelaskan bahwa pembumian Pancasila harus diberikan sejak dini dan masuk ke dalam kurikulum pendidikan. Pendekatannya juga harus disesuaikan dengan yang digandrungi generasi milenial sekarang. "Pendidikan Pancasila harus masuk dalam kurikulum. Tetapi, dalam pendekatannya harus disesuaikan dengan apa yang disukai generasi milenial. Tidak lagi doktrin. Contohnya, seperti pendekatan dalam ranah olahraga, kesenian, dan kuliner," jelas Benny.

Ruang publik, kata Romo Benny, juga harus diambil alih oleh narasi positif. Hal itu sebagai alat untuk melawan konten negatif, khususnya di media sosial. 

Berita Terkait : Jaksa Belum Siap, Sidang Tuntutan Nikita Mirzani Ditunda

Hal senada disampaikan Kepala Badan Nasional Penggulangan Terorisme (BNPT), Boy Rafli Amar. Dalam penjelasannya, Kepala BNPT menjelaskan bahwa narasi kebangsaan dan Pancasila harus menang dan tidak boleh kalah diruang publik.

"Narasi kebangsaan dan Pancasila  harus dan tidak boleh kalah di ruang publik. Saat ini kaum radikal sedang mencoba mengambil alih ruang publik dan mencoba mengambil generasi muda indonesia. Ini menjadi kekhawatiran eksistensi bangsa dan negara," jelasnya. 

Boy Rafli menyatakan, BNPT sangat fokus pada nilai-nilai Pancasila. Jadi, semuanya berangkat dari keberagaman dan kebinekaan bangsa indonesia dan generasi muda memiliki kewajiban dalam melestarikan itu. "Generasi penerus punya kewajiban melestarikan  nilai-niali luhur bangsa."

Berita Terkait : Apa Benar, Rendang Paling Enak Ada di Ethiopia?

Rektor Universitas Islam Indonesia Komarudin Hidayat menjalaskan, Indonesia adalah negara yang sangat plural dan beragam. Nilai-nilai Pancasila simbolik harus masuk dalam kehidupan masyarakat. "Indonesia sangat plural harus  bersatu. Pada takaran simbolik, bagaimana Pancasila itu yang berkerja pada semua. Nilai Pancasila yang  simbolik bisa menyatu ditengah masyarakat," ujarnya. [USU]