Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Rumah Komunitas (Rukom) sebagai Perawat Modal Sosial Kota
Sabtu, 19 September 2020 18:39 WIB
Sebelumnya
Waspada Rumah Murah
Apa yang sedang digodok pemerintah itu bukan berarti salah. Namun sebelum melaksanakan program tersebut, ada baiknya pemangku kebijakan mencermati beberapa kelemahan konsep rumah murah.
(1) Dari aspek lahan, apakah ketersediaan kebutuhan lahan sudah cukup bisa meng-cover jumlah rumah murah yang akan dibangun. Bagaimana sarana penunjang posisi lahan tersebut—transportasi misalnya?
Baca juga : Layanan Komunikasi Telkomsel Di Sumatera Berangsur Pulih
(2) Apakah sudah ada data yang cukup mengenai calon penghuni. Jangan sampai rumah murah akhirnya yang mendapatkan adalah mereka yang berduit lagi. Sebab penghasilan Rp 1,5 juta itu belum ersih. Bagaimana mereka yang menghabiskan 30 hingga 40% gajinya untuk transportasi? Atau, bagaimana jika jarak dari rumah murah yang mereka beli itu akan menggerus sebagian besar pendapatannya untuk transportasi? Serta sejumlah pertanyaan kritis lainnya.
Menyulap Kekumuhan Jakarta
Baca juga : Wamenag : KUA Institusi Penting Perkuat Moderasi Beragama
Sekali lagi, daripada menghabiskan APBN untuk program rumah murah yang belum tentu tepat sasaran, mengapa tidak mengubah paradigma rumahnya sendiri, dari rumah pribadi menjadi rumah komunitas atau rumah bersama. Dengan rumah bersama, mungkin kita bisa menyulap kawasan-kawasan kumuh itu, menjadi area yang pantas, layak, sehat, dan tentu saja indah dipandang mata.
Rumah komunitas atau Rumah bersama, seperti yang sudah disebutkan pada artikel sebelumnya, justru menyasar bukan hanya yang sudah berpenghasilan. Bisa jadi mereka yang pensiun, pegawai penghasilan rendah, pengusaha informal, dan sebagainya.
Jika ini bisa diterapkan, maka ketika kita berangkat ke atau pulang dari Bandara Soekarno Hatta, apa yang tersaji di sebelah kiri/ kanan jalan tol itu, bukan lagi rumah-rumah yang kurang layak, tetapi rumah-rumah sehat, pantas, layak, dan memiliki spirit komunitas yang kuat. Bisa jadi, jika komunitasnya kuat, maka organisasi sosial bangsa ini juga akan kokoh dan tangguh.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya