Dark/Light Mode

Pendidikan dan Pembelajaran Sejarah

Senin, 5 Oktober 2020 14:16 WIB
Dr. Muhtadi, Kaprodi PMI Fidikom, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Dr. Muhtadi, Kaprodi PMI Fidikom, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

 Sebelumnya 
Pendidikan dan pembelajaran sejarah sebenarnya akan mengisi ruang rasa dari peserta didik. Entah itu nilai-nilai sejarah tentang hal yang heroik, pengorbanan untuk kepentingan kemanusiaan, kerjasama dan kebersamaan, kegigihan dan ketekunan, serta lain sebagainya. Di mana hal ini merupakan vitamin bagi penguatan rasa dan karakter peserta didik, agar mereka unggul pada persaingan di era yang serba digital.

Nilai-nilai sejarah yang kaya makna itu penting untuk memenuhi fungsi afektif dari pendidikan. Karena pendidikan itu bukan menciptakan robot yang miskin rasa dan tidak kaya dengan nilai-nilai luhur.

Berita Terkait : Pesona Alam Jaminan Kebersihan dan Kesehatan Tamu

Tetapi pendidikan, termasuk sejarah, menginginkan peserta didik itu menjadi manusia yang memiliki empati, solidaritas, pengorbanan untuk kemanusiaan, tolong menolong, penghormatan dan penghargaan terhadap sesama serta tanggung jawab. Biasanya, pendidikan dan pembelajaran sejarah menghadirkannya dari makna dari peristiwa di masa lalu tentang hal tersebut.

Sejarah itu banyak mengandung hikmah dan pelajaran yang dapat dijadikan sebagai obor, sekaligus panduan bagi peserta didik dalam mengarungi masa sekarang maupun masa depan nanti. Sehingga sejarah dapat menjadi penguat untuk tumbuhnya rasa percaya diri, untuk menggapai masa depan, sebagai hasil pemaknaan dari tokoh maupun peristiwa yang ada sejarah bangsanya tersebut.

Berita Terkait : Pertama Di Indonesia, Moncong Pesawat Garuda Bermasker

Kisah sejarah heroik para tokoh dan peristiwanya akan membawa rasa optimisme untuk meraih kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesamanya. Sejarah juga akan mengajarkan cara memilah dan memilih, apa yang terbaik untuk diri, masyarakat dan bangsa. Pendidikan sejarah akan memperkokoh pondasi identitas dan budaya para peserta didik. Hingga akhirnya, akan memperkuat pondasi kebangsaan dan keindonesiaan kita. (*)

[Penulis: Muhtadi, Doktor Bidang Ilmu Penyuluhan Pembangunan Institut Pertanian Bogor (IPB), Ketua Program Studi (Kaprodi) Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta]