Dark/Light Mode

Bertambah Jadi 91 Orang, Korban Meninggal Gempa Sulbar

Kamis, 21 Januari 2021 13:22 WIB
Alat Berat dikerahkan untuk membersihkan reruntuhan Kantor Gubernur Sulbar akibat gempa bermagnitudo 6,2 SR, Jumat (15/1/2021) dini hari.  [Foto: KABAR.NEWS/DARSIL]
Alat Berat dikerahkan untuk membersihkan reruntuhan Kantor Gubernur Sulbar akibat gempa bermagnitudo 6,2 SR, Jumat (15/1/2021) dini hari. [Foto: KABAR.NEWS/DARSIL]

RM.id  Rakyat Merdeka - Hingga Kamis (21/1) pukul 08.00 WIB, tercatat korban meninggal akibat bencana gempa bumi magnitudo 6,2 di Sulawesi Barat (Sulbar) bertambah menjadi 91 jiwa. Angka ini mengutip dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Korban meninggal 91 jiwa, hilang tiga orang, luka berat 253 orang, luka ringan 679 orang, dan luka sedang 240 orang," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati.

Sementara warga yang mengungsi berjumlah 9.910 jiwa, tersebar di beberapa titik pengungsian, dengan rincian di Kabupaten Mamuju teridentifikasi sementara lima titik pengungsian, seperti di Jalu dua titik, Stadion Mamuju, Gerbang Kota Mamuju, Tapalang, dan Kantor Bupati.

Berita Terkait : 81 Orang Meninggal Akibat Gempa 6,2 SR Sulawesi Barat

Sedangkan di Kabupaten Majene, dua titik teridentifikasi, yaitu di SPN Malunda dan Desa Sulet Malunda.

Pasca gempa, upaya penanganan darurat masih berlangsung dan Gubernur Sulawesi Barat telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari, terhitung dari 15 hingga 28 Januari 2021.

Lebih lanjut, dia mengatakan, melihat dampak bencana, masyarakat selalu diimbau untuk tetap waspada dan siaga. Terutama terkait bencana hidrometeorologi dan potensi bahaya lain, yaitu gempa bumi yang dapat terjadi setiap saat, seperti yang terjadi di Provinsi Sulawesi Barat. Selain itu, ancaman bahaya lain, yakni pandemi Covid-19 yang masih terus terjadi penularan di tengah masyarakat.

Berita Terkait : Baznas Kirim Tim Medis Ke Lokasi Gempa Di Sulawesi Barat

BNPB pun mengingatkan untuk melakukan persiapan keluarga dalam menghadapi sejumlah potensi bahaya tersebut. Diskusikan di antara keluarga dengan terlebih dahulu dalam mengidentifikasi potensi bahaya dan risiko di sekitar.

Masyarakat dapat memanfaatkan aplikasi, seperti InaRISK, Info BMKG dan Magma Indonesia untuk mengetahui potensi bahaya dan risiko.

Selanjutnya, anggota keluarga dapat mendiskusikan upaya konkret yang dapat dilakukan di sekitar tempat tinggal. Setiap keluarga memiliki tingkat risiko yang berbeda, seperti parameter anggota keluarga, topografi di sekitar rumah, kekuatan bangunan, atau tata ruang rumah. [RSM]