Dark/Light Mode

Pesan Terakhir ONO

Jumat, 8 Januari 2021 06:15 WIB
Ngopi - Pesan Terakhir ONO
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Saya menulis ini dengan cucuran air mata. Meskipun sudah hampir sepekan, kepergian seorang sahabat, masih membuat saya syok. Dia adalah Sugihono, Redaktur Eksekutif Rakyat Merdeka yang biasa kami panggil ONO. Dia meninggal dunia pada Minggu (03/01) siang.

Padahal di hari ONO meninggal, saya dan teman-teman sudah punya rencana. Akan pergi ke rumahnya. Ingin membesuk ONO yang sedang sakit sekaligus menghiburnya.

Berita Terkait : ONO Panggil Saya Tulang

Tapi takdir berkata lain. Rencana kami ingin menjenguk berubah jadi takziah. Di rumah ONO, kami hanya mendapatkan sosoknya yang sudah terbujur kaku. Nggak ada tawa khas ONO yang cempreng. Yang ada justru tangisan istri dan kedua anaknya.

“Bang, kenapa begitu cepat pergi?” gumamku dalam hati, sambil mencoba menguatkan diri bersama teman-teman yang lain agar tak terlihat sedih di hadapan keluarganya.

Berita Terkait : Hilangnya Suara Oposisi

Ketika saya merenung, sebenarnya ini tidak mendadak. Sebelumnya, ONO sudah memberi isyarat. Hanya saya terlalu bodoh menangkap pesan. Setiap isyarat yang ada, kami pikir hanya bercanda. Karena memang ONO adalah sahabat yang suka bercanda.
 Selanjutnya