Dark/Light Mode

Nasib Riset Di Perguruan Tinggi

Kamis, 25 Februari 2021 17:01 WIB
Dr. Muhtadi, Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Dr. Muhtadi, Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

RM.id  Rakyat Merdeka - Salah satu upaya jika ingin bangsa ini maju sebagai negara besar dan makmur, maka pembangunan bangsa ini perlu dilakukan berbasis pada data riset.

Hal ini diperlukan, agar data riset menjadi input bagi perencanaan dan implementasi pembangunan yang maju dan berkualitas. Inilah yang dilakukan negara-negara maju pada umumnya. Inovasi-inovasi pun dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembangunan, demi menghasilkan kualitas kehidupan.

Sayangnya, riset di Indonesia dalam dilema. Pertama, anggaran riset kita tergolong rendah. Berdasarkan data 2018, seperti Korea Selatan dan Jepang yang kuat dalam inovasi-inovasi  pembangunannya, ternyata negara-negara tersebut mengalokasikan dana riset dan pengembangan masing-masing sebesar 4,3 persen dan 3,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) mereka.

Berita Terkait : Delusi Kota

Sementara Singapura dan Malaysia, mengalokasikan anggaran 2,6 persen dan 1,3 persen dari PDB mereka. Sedangkan Indonesia, meski naik lebih dari 150 persen dari 2013, namun anggaran riset kita masih di bawah 0,3 persen dari PDB pada 2019.

Kedua, hasil riset sebagian besar masih menjadi dokumentasi di perpustakaan perguruan tinggi maupun lembaga penelitian. Di sini, ada hambatan untuk menjadikan riset sebagai bahan data input untuk pembangunan di Indonesia. Karena kurangnya hubungan dan kerjasama antara para peneliti dengan pihak stakeholder lainnya. Sehingga hasil riset hanya menjadi kumpulan huruf di perpustakaan maupun hasil eksperimen di ruang laboratarium. Tanpa memiliki dampak dan kemanfaatan untuk meningkatkan inovasi dan kreativitas dalam pembangunan. Inilah potret sebagian besar riset di perguruan tinggi.

Misalnya banyak riset hasil anak-anak bangsa yang mengagumkan dan dapat bermanfaat untuk perubahan sosial untuk kesejahteraan bangsa. Tapi, hasil riset ini kurang dampaknya bagi masyarakat, karena rendahnya kolaborasi dari peneliti, pemerintah, swasta dan masyarakat untuk pemanfaatannya.

Baca Juga : Pentingnya Jaga Pola Tidur Agar Kulit Terlihat Cantik

Hasil riset tidak memiliki daya guna, karena tidak dilanjutkan sebagai input kebijakan publik maupun pembangunan. Sungguh disayangkan memang, hasil inovasi dan kreativitas belum banyak mendapatkan “tempat” dalam proses pembangunan nasional.

Ke depan, kolaborasi antara peneliti, pemerintah, swasta dan masyarakat, perlu ditingkatkan. Agar hasil riset itu menjadi acuan dan dimanfaatkan untuk pembangunan bangsa dan negara. Tentu, kolaborasi yang menguntungkan dan bermanfaat untuk Indonesia menuju negara maju.

Sebagaimana kita ketahui, misalnya belakangan ini ada hasil riset di masa pandemi Covid 19: GeNose dan teknologi plasma dingin untuk menahan laju transmisi virus. Hal ini akan berguna dan berdayaguna, terutama dalam menanggulangi pandemi ini, bila hasil riset itu ada kerjasama dari seluruh stakeholder untuk memanfaatkannya.

Baca Juga : Dua Kali Langgar Prokes, Kafe RM Dibiarkan Beroperasi

Begitu pula, banyak hasil riset di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, dan lainnya, yang membutuhkan uluran dari stakeholder, agar inovasi itu dapat bermanfaat bagi pembangunan masyarakat. Karena tentu tak cukup, hasil riset itu hanya terpublikasi di Jurnal terindeks Scopus Q1, Q2, dan Q3, tapi hilang kemanfaatannya.

Sekali lagi, pada dasarnya, negara maju dan kuat, salah satunya karena didukung oleh hasil riset yang dimanfaatkan untuk pembangunan bangsanya. (*)

[Muhtadi adalah Doktor Bidang Ilmu Penyuluhan Pembangunan Institut Pertanian Bogor (IPB), Ketua Program Studi (Kaprodi) Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta]