Dark/Light Mode

Jubir Wapres Soal Kasus Larangan Masker Di Masjid Bekasi: Salah Pahami Ayat

Selasa, 4 Mei 2021 17:31 WIB
Juru Bicara Wapres, Masduki Baidlowi (Foto: Istimewa)
Juru Bicara Wapres, Masduki Baidlowi (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Juru Bicara Wapres, Masduki Baidlowi, meminta agar kasus pengusiran jamaah di Masjid Jami Al Amanah gara-gara mengenakan masker jadi pelajaran untuk semua pihak. Khususnya bagi pemerintah, ormas, dan tokoh-tokoh Islam.

Cak Duki, sapaan akrab Masduki, menyampaikan terima kasih ke pihak kepolisian yang sudah menangani dan memediasi kasus ini. Sehingga tidak lagi terjadi perbedaan pemahaman dan konflik terkait penggunaan masker di dalam masjid.

"Alhamdulillah, sudah ada hitam di atas putih antara kedua pihak," kata Masduki ketika dikontak RM.id, Selasa (4/5).

Baca Juga : Kementan Klaim Alokasi Impor GPS Sudah Sesuai Kalkulasi

Yang lebih penting lagi, terangnya, pihak Takmir Masjid yang melarang sudah menyampaikan permohonan maaf dan mengakui kesalahannya, setelah sempat bersitegang dengan salah satu jamaah yang menggunakan masker, karena salah memahami teks ayat Al-Qur'an yang jadi dasar pelarangannya.

"Ini karena salah memahami teks Al-Qur'an Surat Ali Imran. Bahwa masuk Masjidil Haram aman. Padahal sekarang masuk Masjidil Haram saja pakai masker," sambungnya.

Padahal, sebut Masduki, menggunakan masker di masa pandemi adalah satu bagian penting dari implementasi beragama. Yakni hifdzun nafs, memelihara jiwa. Salah satu hal pokok yang wajib dijalankan umat Islam. Bahkan, dalam keadaan darurat, umat Islam dibolehkan untuk tidak ke masjid.

Baca Juga : Menko PMK Apresiasi Penanganan Stunting Di NTT

"Misal saat ke masjid, ternyata ada singa. Maka menjadi gugur kewajiban ke masjid karena ada singa. Itu kalau kelihatan. Nah, masalahnya virus ini kan nggak kelihatan," imbuh Ketua MUI bidang Informasi dan Komunikasi ini.

Tidak kelihatannya virus ini, memang menjadi tantangan tersendiri dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat. Tak heran, kata Cak Duki, jika banyak pihak yang menyebut jika pandemi Covid-19 adalah rekayasa, dan tudingan konspirasi lainnya.

"Macam-macamlah, repot kita. (Pemahaman) seperti itu banyak. Tapi kalau sampai melarang ini baru yang pertama," tambahnya.

Baca Juga : Kementan Sosialisasi Persiapan Manajemen Perubahan 2021

Masduki mengakui, bahwa saat ini memang banyak orang yang semangat beragamanya tinggi namun tidak dibarengi pemahaman yang cukup. Akibatnya, baru mempelajari 1-2 hadis, lalu sudah mengambil kesimpulan dan menyalahkan orang. Kondisi inilah yang membuat agama tidak rukun.

Menurutnya, sikap toleran itu baru bisa muncul ketika seseorang semakin mendalami agama. "Semakin dangkal, semakin tidak toleran," jelas Cak Duki.

Terakhir, ia berharap kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah dan ormas Islam seperti MUI, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah. Termasuk tokoh-tokoh agama. Agar lebih intensif lagi dalam memberikan pemahaman terkait pandemi Covid-19. [SAR]