Dark/Light Mode

Kasus Positif Nyaris 14 Ribu, Kasus Aktif Hampir 7 Ribu, Kematian Dekati 400 Orang, RS Di Jawa Nyaris Penuh, IGD Penuh Sesak, ICU Habis

Duka Karena Corona Datang Silih Berganti

Senin, 21 Juni 2021 07:45 WIB
Mengenakan jaket dan menenteng koper, pasien Covid-19 di Puskesmas Menteng, yang terdiri dari seorang ayah dan seorang anak, akan dibawa ke Rumah Sakit Darurat Covid (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Minggu (20/6/2021). (Foto: ANTARA/Galih Pradipta)
Mengenakan jaket dan menenteng koper, pasien Covid-19 di Puskesmas Menteng, yang terdiri dari seorang ayah dan seorang anak, akan dibawa ke Rumah Sakit Darurat Covid (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Minggu (20/6/2021). (Foto: ANTARA/Galih Pradipta)

 Sebelumnya 
“Di luar itu, mungkin kami tidak bisa memberi bantuan lebih,” kata Lia, dalam acara Temu Media Persi, kemarin.

Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mendesak pemerintah segera bertindak mengatasi layanan rumah sakit yang hampir kolaps. Dewan Pakar IAKMI, Hermawan Saputra menyarankan, ada dua opsi yang bisa dipilih, yaitu penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau lockdown regional.

“Opsi paling radikal tentunya lockdown regional, tapi paling logis. Cara itu yang paling riil. Kalau tidak ya ekonomi terus terpuruk,” kata Hermawan, saar memberikan keterangan pera bertajuk “Desakan Emergency Responses: Prioritas Keselamatan Rakyat di Tengah Pandemi”, yang disiarkan secara online, kemarin.

Baca juga : Makin Serem, Kasus Positif Nyaris 14 Ribu, Kasus Aktif Hampir 7.000, Kematian Dekati Angka 400

Menurut Hermawan, kebijakan rem-gas yang diusung pemerintah terbukti tak efektif menahan penyebaran virus asal Wuhan itu. Menurut dia, kebijakan itu hanya menunda ledakan bom waktu. Begitu juga dengan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Menurut dia, PPKM bukan bertujuan memutus mata rantai penularan. Tapi relaksasi. “Jadi dari perspektif kebijakan, Indonesia belum memiliki policy options yang kuat untuk pengendalian Covid-19,” kata Hermawan.

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menyarankan, pemerintah perlu memperkuat respons dan strategi untuk mengantisipasi semakin tingginya kasus Corona. Kata dia, lonjakan kasus Corona yang terjadi saat ini bukan hanya karena faktor mudik, tapi akumulasi dari berbagai faktor. Seperti penanganan klaster perkantoran yang penanganannya belum selesai.

Baca juga : Hati-hati, Kasus Aktif Cetak Angka Tertinggi Di Bulan Ini, Kasus Sembuh Terendah

Menurut dia, kalau tak ada keputusan tepat dalam waktu dekat ini, keadaan akan bertambah parah. Jumlah kasus semakin banyak dan layanan rumah sakit akan kolaps. Ia memprediksi, ledakan besar akan terjadi pada akhir Juni dan awal Juli nanti. Apalagi ada virus Corona varian Delta yang lebih cepat menular.

“Kita menuju puncak dari gelombang pertama. Puncaknya akan tinggi sekali. Mudah-mudahan bisa kita minimalisir potensi korbannya,” kata Dicky, saat dikontak, tadi malam.

Sementara itu, di jagat Twitter bertebaran kabar duka. Selain kabar kematian, banyak juga warganet yang mengabarkan tentang keluarga, saudara, sahabat dan kolega yang terkena Covid. Akun @eetyant sedih campur kesal melihat banyak yang terpapar Covid sementara di satu sisi ada banyak yang abai protokol kesehatan. “Sudah lockdown saja. Sumpah banyak banget yang abai prokes. Ya Allah lindungi kami dari corona,” doanya.

Baca juga : PLN Bangun 3 PLTM Senilai Rp 200 Miliar

Akun @crazyexgfriendd berdoa hal yang sama. Kepada pengikutnya, ia mengabarkan kondisi om dan tantenya yang makin parah karena terkena Covid. Akun @hikmahroslan ikut bermunajat memohon perlindungan. “Ya Allah, please protect my family from the danger of covid-19. Keep them safe and grant them good health throughout this hard time,” pungkasnya. [BCG]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.