Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Rekor Nasional: Corona Sehari Tembus 20 Ribu, Rekor Jakarta: Sehari 180 Wafat Karena Corona
Bahkan, Dikubur Pun Harus Antre
Jumat, 25 Juni 2021 08:00 WIB
Sebelumnya
Begitu juga seorang lelaki paruh baya yang duduk sendiri di samping gundukan tanah. Nanar menatap wajah Anies karena baru beberapa menit lalu istrinya masuk ke dalam liang lahat.
“Istri saya, Pak. Minggu lalu masih sehat. Cuma sakit perut terus drop, Pak. Kena Covid,” begitu katanya. Mata kami bertatapan. Tak perlu kata-kata. Hening dan mata basah itu sudah cukup pesannya. Duka itu tak terkira dalamnya,” kata Anies.
Anies mengatakan, angka kematian pada Rabu (23/6) kemarin mencatat rekor selama wabah menyerang Ibu Kota. Ada 180 jenazah yang dikuburkan pada hari itu. Dia pun berharap, angka kematian ini bisa ditekan lagi dengan mempersempit angka penularan Corona.
Kata dia, meskipun lahan baru di Rorotan ini ukurannya 3 Ha, tolong jangan sampai dipenuhi. Ya, jangan sampai penuh, jangan diisi jenazah seperti hari ini lagi. “Cukup, cukup sudah. Kita tak ingin melihat lebih banyak lagi wajah duka,” harapnya.
Baca juga : Korban Jiwa Tembus 250 Ribu Per Hari, India Belum Capai Puncak
Kemenkes Ubah 3 RS Rujukan
Tak hanya di pemakaman, sejumlah rumah sakit di DKI Jakarta juga penuh. Rata-rata keterisian sudah mencapai 90 persen. Untuk mengatasi itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memutuskan mengubah tiga rumah sakit rujukan pusat untuk khusus menangani pasien Corona. Yaitu Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati, RSUP Persahabatan, dan Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso.
“Diharapkan dengan mengonversi ketiga rumah sakit ini memberikan pelayanan full untuk Covid-19, membantu menambah ketersediaan tempat perawatan,” kata Juru bicara program vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi, kemarin.
Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menyebutkan, penguatan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro masih menjadi hal utama yang harus dilakukan untuk menekan laju kasus positif khususnya yang terpusat di Pulau Jawa.
Baca juga : Anies Jangan Girang Dulu
Menurutnya, pemerintah telah mempelajari berbagai opsi penanganan Covid-19 dengan memperhitungkan kondisi sosial, ekonomi, politik Indonesia, termasuk pengalaman negara lain.
“Disimpulkan, PPKM mikro masih menjadi cara penanganan yang paling efektif karena dilakukan hingga tingkat terkecil dan dapat berjalan tanpa mematikan ekonomi rakyat,” jelasnya.
Selain itu, Satgas juga meminta mekanisme koordinasi dan pembagian peran dalam menjalankan PPKM mikro dilakukan dengan benar dan seefektif mungkin. Dalam rangka pencegahan, lurah atau kepala desa sebagai pengendali posko wajib berkoordinasi dengan ketua RW untuk mendata kasus positif di tingkat RT di wilayah masing-masing.
Kemudian, lurah atau kepala desa bersama Bintara, Pembina Desa, seta Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat memantau kepatuhan protokol kesehatan dan memberikan edukasi seputar Covid-19. Selanjutnya, lurah atau kepala desa berkoordinasi bersama puskesmas tingkat kecamatan dan kelurahan harus melakukan testing pada pasien Covid-19 dan kontak eratnya yang dilanjutkan dengan tracing dibantu TNI dan Polri.
Baca juga : Senator Usulkan Tenaga Medis Yang Wafat Karena Corona Dikubur Di Taman Makam Pahlawan
Terakhir, puskesmas dapat melakukan treatment dan pengawasan kepada pasien isolasi mandiri dan merujuk pasien dengan gejala sedang-berat ke tempat isolasi terpusat atau rumah sakit umum daerah (RSUD) di tingkat kecamatan. [QAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya