Dark/Light Mode

MUI Gandeng Institut Leimena Gelar Sarasehan Jurnalis Lintas Agama

Rabu, 14 Juli 2021 15:51 WIB
Ketua Komisi Infokom MUI Pusat Mabroer MS. (Foto: Ist)
Ketua Komisi Infokom MUI Pusat Mabroer MS. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Komisi Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (Infokom MUI) Pusat bersama Institut Leimena menggelar kegiatan Sarasehan Jurnalis Lintas Agama. Kegiatan tersebut digelar secara virtual dengan menghadirkan tokoh lintas agama.

Sarasehan bertajuk Peran Media Keagamaan dalam Mewujudkan Harmonisasi Keberagaman ini digelar virtual, Rabu (14/7). Pembukaan sarasehan dimulai dengan mengheningkan cipta sejenak sekaligus doa bersama bagi korban Covid-19 yang telah meninggal dunia. Juga bagi para penyitas yang kini tengah berjuang melawan Covid-19 agar diberikan kesembuhan.

Ketua Komisi Infokom MUI Pusat Mabroer MS mengatakan, media keagamaan menjadi penting karena berperan besar ikut membangun literasi keagamaan dalam masyarakat. Seiring perkembangan teknologi, pengaruh media keagamaan tidak lagi terbatas pada umat masing-masing, tetapi hingga ke masyarakat luas.

Baca Juga : Ini Hukum Kirim Stiker Doa, Dan Alfatihah Melalui Whatsapp

Menurut Mabroer, melalui literasi keagamaan ini, media dapat membangun kapasitas seseorang untuk mampu bekerjasama dengan orang yang berbeda agama. "Tanpa mengurangi, bahkan dapat memperkuat, iman agamanya sendiri," kata Mabroer, Selasa (13/7).

Mabroer mengambil contoh, misalnya, Islam Wasathiyah yang dikumandangkan oleh MUI, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah.

Bagi umat Muslim sendiri, lanjut Mabroer, pemahaman ini penting diangkat dalam berbagai media keagamaan Islam. Antara lain dalam menghadapi pandangan-pandangan intoleran yang mengatasnamakan Islam.

Baca Juga : Produktivitas Karyawan Naik, BTN Sabet 2 Award HR Excellence 2021

Bagi umat beragama lain apabila wajah Islam yang ditampilkan dalam media keagamaannya adalah Islam Wasathiyah, yang terbuka terhadap perbedaan, tentu akan ikut meruntuhkan stereotip negatif yang dibangun oleh kelompok-kelompok intoleran.

"Dengan demikian, berbagai media keagamaan ini ikut membangun pola pikir dan persepsi yang positif antar umat beragama untuk dapat mempererat relasi dan kerjasama," tandas Mabroer.

Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho berharap, sarasehan jurnalis ini dapat menjadi titik awal dialog yang menghasilkan kumpulan gagasan dan permasalahan utama untuk dibahas dalam rangkaian dialog selanjutnya.

Baca Juga : Gus Halim Ulang Tahun, Netizen Ramai-Ramai Layangkan Doa dan Harapan

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat relasi dan jejaring jurnalis lintas agama dalam upaya meningkatkan literasi keagamaan yang toleran dan damai dalam masyarakat kita yang majemuk.

"Agar tercipta keberagaman yang harmonis demi kemajuan peradaban manusia," katanya.

Sejumlah pembicara hadir dalam sarasehan tersebut di antaranya Wakil Ketua Umum MUI Dr KH Marsudi Syuhud MA, Ketua MUI Bidang Infokom KH Masduki Baidlowi MSi, Sekjen PP Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu'ti, Ketua Umum Lembaga Alkitab Indonesia Pdt Dr Henriette T Hutabarat-Lebang, tokoh Konghucu Js Kristan, dan ketua Dewan Pers periode 2016-2019 Yosep Adi Prasetyo. [FAQ]