Dark/Light Mode

Titip Rindu Buat Muin

Selasa, 11 Juni 2019 07:53 WIB
Ngopi - Titip Rindu Buat Muin
Catatan :
ERWIN TAMSAL

RM.id  Rakyat Merdeka - Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa Benturan dan hempasan terpahat di keningmu Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras namun kau tetap tabah hm.. Meski nafasmu kadang tersengal memikul beban yang makin sarat kau tetap bertahan Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari kini kurus dan terbungkuk hm... Namun semangat tak pernah pudar meski langkahmu kadang gemetar kau tetap setia..

Lirik lagu “Titip Rindu Buat Ayah” dari Ebiet G Ade di atas mengingatkan saya pada sosok Pak Muin. Bapak dua anak dan tiga cucu ini setiap malam harus berjuang mencari sesuap nasi. Demi menafkahi keluarga.

Muin harus berjualan sayuran di Pasar Cikokol, Kota Tangerang. Menjualkan sayuran milik orang lain. Berangkat sore. Dua kali naik angkot dari rumahnya di Desa Jati menuju pasar. Pagi baru pulang. Itu setiap hari dilakoni pria 69 tahun ini.

Baca juga : Netizen Rindu Ahok Pulang Kampung

Bulan Ramadan, Muin mulai membatasi diri. Kalau hari biasa berangkat ke pasar sore, pulang jam 7 pagi. Tapi, di bulan puasa ini, pria asli Indramayu ini berangkat ke pasar habis buka. Sekitar pukul 19.00 WIB. Pulangnya, jam 2 pagi.

Meski kadang penghasilan cuma 50 ribu per hari, Pak Muin sungguh perhatian keluarga. Khusus Ramadan, Pak Muin memang sengaja ingin bagi waktu. Ingin kumpul bersama istri, anak dan 3 cucunya. Setiap hari, Muin menyempatkan berbuka bersama. Lalu, ke pasar. Sahur juga begitu. Pulang cepat, ingin sahur bersama keluarga.

Bagi Pak Muin meluangkan waktu bersama keluarga adalah kebanggaan. Dia rindu akan suasana rumah. “Walau makanan berbuka dan sahur ala kadarnya, tapi kalau itu buatan istri, nikmat sekali. Kebersamaan adalah segala-galanya,” curhat Pak Muin.

Baca juga : Tokio Marine Life Insurance Perlindungan Buat Pemudik

Saya bertemu Pak Muin, akhir pekan lalu. Lima hari sebelum Lebaran. Ketemunya kebetulan. Saat nunggu mobil angkot sekitar pukul 2 pagi. Ke- betulan, arah kami sama. Saya pulang dari kantor. Pak Muin dari pasar. Saya lebih dulu menyapa. Mena- nyakan rute angkot. Kata Pak Muin, angkot jarang lewat kalau jam segini. Kadang menunggu angkot hingga 2-3 jam yang menuju ke Pasar Anyar. Lalu, Pak Muin menawarkan diri untuk jalan kaki ke Pasar Anyar.

Daripada nunggu angkot lama, sayapun akhirnya mengiyakan untuk ikut jalan kaki bersama Pak Muin. Jarak tempuh ke Pasar Anyar sekitar 2 kilometer. Lumayan melelahkan. Bagi Pak Muin, berjalan kaki ‘makanan sehari-hari.’ Setiap hari, pulang dari pasar, pria berusia hampir 70 tahun menyusuri jalan pinggir kali Cisadane. Masih kuat jalan kaki walau kulit membungkus tubuhnya sudah keriput. Dia tetap tabah mengarungi kerasa kehidupan.

Di perjalanan, Pak Muin banyak menceritakan lika-liku kehidupan dialaminya. Termasuk harus bertanggung jawab menghidupi istri, dua anak perempuan, dan tiga cucu tersayang. Kedua anak perempuan sudah ditinggal suaminya tiga tahun lalu.

Baca juga : 15 Ribu Orang Ikuti Mudik Bareng BRI

Sejak itu, dua anak perempuan dan tiga cucu tinggal bersama Pak Muin. Otomatis, Pak Muin harus kerja keras ‘ikut’ bantu menafkahi cucunya. Dua anak perempuan yang sudah menjanda itu kerja, jadi buruh cuci. Penghasilannya 300 ribu per bulan. “Itulah perjalanan hidup kita alami. Kita tak pernah tahu akan seperti apa hidup kita di ujung nanti.

Hanya Allah, penentu segalanya,” curhat Pak Muin dengan napas terengah-engah. Yang pasti, Pak Muin ingin sekali memberikan yang terbaik bagi keluarga. Terutama, ingin menyekolahkan ketiga cucunya. Supaya jadi lebih baik dari kakeknya, si penjual sayur.

Tentunya, masih ada jutaan Pak Muin lain di seluruh Indonesia dengan perjuangan keras, punya mimpi agar anak dan cucunya jadi lebih baik. Kita doakan dan rindukan perjuangan keras, tak kenal lelah dari Pak Muin. Semoga apa yang jadi cita-citanya qobul. Aamiin Ya Robbal Alamiin. ***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.