Dark/Light Mode
SISWANTO
RM.id Rakyat Merdeka - Keindahan alam di Labuan Bajo tidak perlu diragukan. Hamparan pulau-pulau dengan lautnya yang hijau kebiru-biruan, sangat menyegarkan mata. Di dalamnya, ada beberapa destinasi wisata yang jadi kebanggaan.
Mulai dari Pulau Padar, Pulau Rinca, Pink Beach dan Pulau Kanawa. Satu lagi yang paling terkenal, yakni Taman Nasional Pulau Komodo. Semua destinasi yang ada, menawarkan keindahan alam yang alami. Bukan destinasi buatan. Juga tanpa polesan teknologi.
Orang di sana pun sampai berkelakar, “Tuhan ciptakan Labuan Bajo saat sedang tersenyum”. Konyol memang. Tapi saya pikir, itu ekspresi warga setempat membanggakan keindahan alamnya.
Sejak digelar Sail Komodo pada 2013, Pulau Komodo bersama pulau-pulau lainnya langsung ngetop. Turisturis manca negara, berebut datang ke sana. Termasuk turis lokal dari dalam negeri.
Denyut perekonomian warga setempat bergeliat. Warganya banyak banting stir. Dari nelayan menjadi pemandu wisata, pengrajin dan usaha kuliner. Yang banyak duit, bikin usaha penginapan seperti home stay.
Namun keindahan alam di sini, harus diganjar kocek yang tak sedikit. Bahkan, Presiden Jokowi berencana menetapkan liburan ke Pulau Komodo sebagai super premium. Tarifnya mencapai Rp 14 juta per orang. Nilai yang sama, untuk liburan ke sejumlah negara di Asia Tenggara.
Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat Agustinus Rinus menyebut, potensi ekonomi di Pulau Komodo mencapai Rp 2,3 triliun per tahun. Hasil penjualan tiket di tahun lalu sebesar Rp 34 miliar. Ironisnya, Pemda hanya dapat Rp 6 miliar dari hasil penjualan tiket.
Pada Selasa kemarin, saya dapat kesempatan menjelajahi 4 destinasi wisata di sana. Pulau Padar, Pink Beach, Pulau Kanawa, dan tidak keting galan Pulau Komodo.
Baca juga : Belajar Baca Al-Quran Setelah Ditinggal Ayah
Ada sejumlah aturan bagi wisatawan selama di Pulau Komodo. Maklum, reptil satu ini tergolong hewan yang sulit diajak kompromi kalau lapar. Penciumannya tajam hingga sejarak 7 km. Sekali gigit, racun yang ditularkan bisa mematikan dalam beberapa hari.
Salah satu aturan, yakni pengunjung harus dikawal pemandu. Mereka menamakan diri tim ranger. Mayoritas, para ranger ini merupakan orang lokal. Untuk jadi ranger, syaratnya dua; bisa berbahasa inggris dan tidak takut sama komodo.
Dalam bertugas, para ranger ini tidak dilengkapi pengaman diri. Senjata satu-satunya, hanya tongkat kayu yang ujungnya bercabang. Dipakai menghalau, kalau tiba-tiba ada komodo yang menyerang.
Namun tugas yang berbahaya ternyata tak sesuai dengan pendapatan. Mereka tak kenal istilah UMR (upah minimum regional). Karena tiap bulan memang tidak terima gaji.
Baca juga : Pengobatan Alternatif
Pemasukannya Rp 40 ribu, setiap mengawal tamu. Beruntung kalau musim libur. Wisatawan yang datang bejibun. Sehari bisa mengantar 4 sampai 5 kali tamu. Kalau sepi, hanya sekali 1 sampai 2 kali.
Maklum area yang harus ditelusuri di Pulau Komodo cukup luas. Bisa belasan kilometer. Tiap tamu atau rombongan yang da tang bisa habiskan 1 sampai 1,5 jam. Telusuri hutan, foto-foto dengan komodo sampai temani shopping.
Ke depan, hal ini perlu jadi perhatian. Pemerintah jangan hanya fokus pada pengembangan kawasan dan genjot jumlah wisatawan. Urusan terkecil soal gaji tim ranger ini perlu diperhatikan. Pendapatan harus sebanding dengan ancaman keselamatan pekerjaan.
Apalagi ada cerita, kalau pernah ada tim ranger yang tewas karena diterkam komodo. Bagaimanapun, kemajuan daerah harus berbanding lurus dengan kesejahteraan warganya. ***
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.