Dark/Light Mode

Wafat Dalam Tidur

Kamis, 12 Desember 2019 06:44 WIB
Ngopi - Wafat Dalam Tidur
Catatan :
FAZRY

RM.id  Rakyat Merdeka - NENG, ini Bi Iyut... Ibu meninggal neng...,” terdengar suara Bi Iyut menangis di ujung telepon. Suaranya samar, kurang jelas. Tut...tut...tut... sambungan telepon via WhatsApp itu terputus.

Istri yang mengangkat telepon diam sejenak, kerongkongannya tercekat. Pikirannya mulai melayang, gelisah. Apa betul Ibu meninggal? Kami berharap salah dengar. Apalagi malam itu jaringan ponsel lagi lemot, suara panggilan lewat aplikasi WhatsApp lagi nggak bagus. Sering putus-putus.

Kami kontak balik, memastikan kabar duka tersebut. Bi Iyut (Adik kandung Hj Eem Rohimah/ibu mertua saya) menegaskan, Ibu kami memang sudah pulang ke rahmatullah. Meninggal dalam keadaan duduk di depan televisi. Kejadiannya ba’da Isya.

Baca juga : Jakarta Kampung

Sontak saja kabar duka ini bikin kami sekeluarga kaget. Tak ada riwayat sakit serius yang diderita Ibu. Tak ada juga isyarat Ibu bakal meninggalkan kami selamanya. Dua hari sebelum Ibu wafat, kami masih berkomunikasi. Saat itu, Ibu mengaku lagi masuk angin, badannya habis dikerok. Selebihnya, wajar-wajar saja. Normal, beraktivitas seperti biasa.

Yang bikin kami sedih, Ibu meninggal sendiri di rumah. Tak ada yang menemani saat malaikat mencabut nyawanya. Keluarga menceritakan. pada Senin malam (9/12), Zahra (cucu Bi Iroh), melihat rumah Ibu masih gelap, lampunya belum menyala. Zahra pun mengetuk pintu.

Di balik pintu kaca, dia mengintip, Ibu tengah duduk di depan tivi. Tivinya nyala. Pintu diketok, salam disampaikan, Ibu tak bergeming. Zahra langsung lari, memanggil mamanya di rumah, mengabarkan jika ada sesuatu yang janggal di rumah Ibu.

Baca juga : Iuran Naik, Kelas Turun

Cerita keluarga, Ibu kami hanya diam di depan televisi. Setelah dicek, ternyata Ibu sudah pergi untuk selamanya. Ina lillahi Wainailaihi Rojiun. Diperkirakan, Ibu meninggal saat tidur. Posisi badannya duduk bersandar di sofa menghadap tivi, tangan kirinya menyangga kepala, matanya sudah tertutup, pun dengan mulutnya, kakinya selonjoran lurus ke depan.

Mendengar cerita itu, kami bergegas pulang kampung. Buliran air mata kami tak tertahan. Menetes kian deras saat tiba di rumah Ibu, di Sangkanurip, Kabupaten Kuningan.

Terlihat jelas bendera kuning dipasang di depan rumah. Warga sudah kumpul. Jenazah Ibu sudah rapih, badannya dibalut kain kafan dalam keranda. Banyak tamu yang datang me layat, bergiliran mengirim doa di depan jenazah.

Baca juga : Dapat Salam Tempel

Semasa hidup, Ibu dikenal sebagai sosok yang baik dan sa bar mengurus almarhum suaminya, H. Endo Sutiana, yang kena sakit gula.

Ibu kemudian dikebumikan di pemakaman tak jauh dari rumah. Selamat jalan Ibu, kami bakal rindu aci gorengnya, kudapan di pagi hari jika kami lagi pulang kampung. In Sya Allah, Ibu pergi dalam husnul khatimah. Aamiin YRA. ***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.