Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kena Gilas Corona

Selasa, 25 Agustus 2020 05:15 WIB
Ngopi - Kena Gilas Corona
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Beberapa hari lalu, saya mendadak kangen dengan tempat-tempat makan pas kuliah dulu. Apalagi ada kabar bahwa warung makan di sekitar kampus sudah mulai buka. Demi rasa kangen tanpa niatan beli makan, saya bermotor selama 20 menit buat ke sana.

Iya, beberapa tempat makan sudah buka, tapi sepi. Biasanya, setiap sore makanannya tinggal sedikit, ini malah masih banyak. Berarti, yang beli juga sepi.

Saya kaget ketika bangunan Warteg S, tempat makan langganan pas kuliah dulu sudah rata dengan tanah. Hal ini segera saya infokan di grup WA kawan-kawan di kampus dulu. Ada yang kaget, tapi lebih banyak yang maklum. Maklum corona menghancurkan perekonomian bangsa.

Berita Terkait : Pelihara Merpati Cukup Menjanjikan

Saya makan di Warteg S itu sejak 2007. Rasa makanannya di bawah kategori enak, tapi murah. Biasanya, saya pakai nasi, telur dadar, sayur sop, dan dua gorengan. Plus sambal cabe dan air putih gratis sepuasnya. Pas 2007, itu harganya Rp 5 ribu, ketika akhir 2018 harga menu yang sama sudah Rp 12 ribu.

Yang melayani biasanya bapak-bapak, kadang istrinya. Si bapak suka royal ke pelanggan tetap. Kalau saya beli nasi dan sayur sop, dikasih banyak. Masalahnya, nasinya keras dan kurang enak. Tapi, bisa diakali dengan minta kuah rawon yang enak pas baru matang. 

Kalau mau gorengan, sebaiknya beli pagi atau siang. Soalnya, sore dan malam gorengannya sudah lemas. Buat pelanggan tetap, kalau malam pas mau nutup, boleh ngambil gorengan gratis, tapi yah gorengannya udah dingin. Dimakan pun alot.

Berita Terkait : Lari Bareng Yuk...

Seorang teman yang juga biasa makan di Warteg S kaget dengar bangunannya sudah rata dengan tanah. Besoknya, dia sempatin datang buat foto-foto dan dibikin status WA. Dia juga bela-belain nyari tahu apa yang terjadi. 

“Itu warteg gak ngelanjutin sewa disana, wartegnya udah tutup sejak rame corona, sekarang yang punya tanah mau bikin tempat kost di sana,” ujar teman tadi. “Terus itu yang warteg sekarang pindah ke mana?” sahut warga grup WA.

“Nggak tahu. Toh yang jualan makanan di kantin kampus ada pada pulang kampung nggak balik-balik,” kata teman pertama tadi. “Corona coy, kalau nggak matiin orang, ya matiin usaha orang aja,” sahut saya. Dan grup WA tadi jadi sepi, nggak ada komen lagi. Nggak ada aktivitas kaya puing bangunan warteg yang teronggok setelah kena gilas corona.

Berita Terkait : Serba Salah Sekolah

Ospi Darma, Wartawan Rakyat Merdeka