Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Redaktur
RM.id Rakyat Merdeka - Seperti kaum pekerja pada umumnya, saya dan beberapa kawan jurnalis yang ngepos di KPK, saban selesai kerja, tak langsung pulang. Kami biasa ngobrol-ngobrol ringan. Soal apa saja. Ngalor ngidul.
Dari kasus-kasus di komisi antirasuah, kasak-kusuk hubungan kawan seprofesi, dan tentu saja, politik. Tahun politik, semua orang bicara politik. Lumrah. Beberapa hari lalu, kami membahas yang agak berat; soal diperbolehkannya “orang gila” nyoblos dalam Pemilu mendatang.
Baca juga : Caleg Gagal Hati-hati Stres Dan Gila
Aturan yang memang cukup lucu. Lucu, bagi yang tidak mengerti. Sebagai orang yang cukup akrab dengan psikolog, sedikit banyak saya punya pengetahuan soal ini. Dalam dunia medis, tidak ada istilah orang gila. Yang ada, gangguan jiwa.
Mereka dilabeli “orang dengan gangguan jiwa” atau disingkat jadi ODGJ. Dikategorikan sebagai kaum disabilitas. Mental. Nah, kalau para penyandang disabilitas fisik boleh nyoblos, maka harusnya hal yang sama juga berlaku bagi para penyandang disabilitas mental.
Pengecualian, yang sangat berat sampai hilang kesadaran permanen. Itu pendapat saya. Tapi orang-orang yang merasa “normal” seperti kawan-kawan saya tahunya orang gila ya orang gila. Sementara pikiran saya jauh menerawang ke grup WA keluarga. Yang isinya melulu perdebatan soal capres-cawapres.
Sebenarnya saya agak bersyukur, karena tak waswas lagi ditanya soal jodoh. Tapi nyatanya obrolan soal politik malah lebih meresahkan. “Jadi kamu pilih siapa, ta?” tanya paman dari Tegal.
Baca juga : Fans Nissa Sabyan Bandung Kecewa
Sebut saja Paman T. Saya jawab dengan kelakar, plesetan lagu. “Satu atau dua pilih aku atau dia”. “Oh berarti kamu cebong,” sambar Paman T. “Bukan paman,” bantah saya.
Om saya dari Purwokerto, sebut saja Om P, tiba-tiba nimbrung dalam obrolan. “Berarti kamu kampret,” ujar Om T. Ketika saya sedang mengetik, Paman T sudah menyambar duluan. “Bukan lah! Biasanya kalau orang nggak mau bilang pilihannya apa, itu sudah pasti cebong,” seru Paman T.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.