Dark/Light Mode

Teriakan Istri Ditinggal Suami Karena Corona

Jumat, 29 Januari 2021 06:30 WIB
Ngopi - Teriakan Istri Ditinggal Suami Karena Corona
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Beberapa hari lalu, ada tetangga saya, seorang bapak paruh baya, meninggal dunia karena Covid-19. Peristiwa ini begitu memukul istrinya. Setelah kejadian itu, setiap malam, ibu tiga anak itu teriak-teriak.

Satu minggu sebelum meninggal, cerita anaknya, bapaknya sehat-sehat saja. Hanya sakit perut dan masih beraktivitas normal. Hingga sore harinya, bapak itu minta diantar ke dokter untuk mengecek kondisi kesehatan.

Karena hari Minggu, dokter tutup. Mereka disarankan ke Puskesmas atau Rumah Sakit Kecamatan. Sampai di Rumah Sakit, ternyata langsung diambil tindakan. Dokter mengambil sampel darah dan menyarankan dirawat.

Anak itu kaget. Sebab, sebelumnya, orang tuanya tampak sehat-sehat saja. Namun, dia nurut saja. Dia percaya dengan yang dilakukan pihak rumah sakit.

Baca juga : Musim Hujan Bikin Keki

Beberapa hari berlalu, ternyata sakit perut bapak itu semakin parah. Hingga dia membutuhkan ruang ICU. Di masa pandemi seperti ini, mencari ruang ICU sangat sulit. Dari Jakarta Utara, baru dapat ruang ICU di Jakarta Timur.

Pihak rumah sakit menjelaskan, setelah di-swab, ternyata bapak itu positif Covid-19 dan keadaan semakin memburuk. Makanya harus mencari Ruang ICU khusus Covid-19.

Sekitar tiga hari di Ruang ICU, kabar duka datang. Anak itu menelepon saya, sekaligus meminta tolong diumumkan ke tetangga bahwa bapaknya sudah meninggal.

Meninggal dengan cepat tentu mengagetkan. Mental keluarga sepertinya belum siap, terutama istrinya. Pertemuan pekan lalu sebelum berangkat ke rumah sakit adalah pertemuan terakhir. Sebab, suaminya harus diisolasi di rumah sakit hingga wafat dan dikuburkan di pemakaman khusus Covid-19 di Tegal Alur, Jakarta Barat.

Baca juga : Maling Serakah

Setiap malam, suara teriak-teriak itu terdengar. Rumah kami yang berjarak 30 meter atau selisih tiga rumah pun masih terdengar. Betapa keras suara teriakan yang sangat histeris dari ibu itu.

Beberapa tokoh masyarakat pun berembuk. Sebab, pihak keluarga sudah tak mampu menahan teriakan ibu itu. Supaya masyarakat lain bisa membantu, kami meminta satu keluarga ini di-swab oleh pihak rumah sakit. Alhamdulillah hasilnya negatif.

Kondisi ibu sudah sangat lemas. Siang hari hanya melamun, sesekali teriak. Sementara di malam hari, tenaganya dihabiskan untuk teriak. Teriakannya juga selalu konsisten, hanya memanggil nama suaminya dan sesekali terdengar memanggil orang tuanya yang sudah meninggal juga.

Anak sulungnya pun seperti kaget. Sebagai anak tertua, dia harus menjadi ‘ayah’, pelindung bagi ibu dan adik-adiknya. Saya melihat betapa kikuknya laki-laki berusia 27 tahun itu. Karena harus melawan rasa sedih kehilangan ayah dan harus menemani ibu yang belum terima ditinggal suaminya. Saya hanya bisa mendukungnya untuk menghadapi itu semua.

Baca juga : Lupa Selamatkan Janin Sendiri

Semua orang bisa berada di posisi itu saat ini. Mungkin, jika didata, orang yang stres pasca ditinggal keluarga yang wafat karena Covid-19 cukup banyak. Mungkin pemerintah bisa peduli juga dengan keluarga pasien Covid-19 yang meninggal dunia. [Nana Maulana/Wartawan Rakyat Merdeka]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.