Dewan Pers

Dark/Light Mode

Diskriminasi Sepeda

Senin, 21 Juni 2021 06:10 WIB
Ngopi - Diskriminasi Sepeda
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketika Pemprov DKI berencana untuk membolehkan pesepeda menggunakan Jalan Layang Non Tol Kampung Melayu-Tanah Abang di akhir pekan, kawan saya, Irfan termasuk orang yang senang mendengar berita itu.

Maklum, sebelum pandemi melanda dia memang suka membawa sepedanya ke arena car free day (CFD). Oleh karena itu, dia pun berencana untuk meramaikan uji coba jalur khusus sepeda tersebut hari Minggu kemarin.

Berita Terkait : Belajar Bikin Kolam Ikan

Dia terlihat bersemangat sekali tuh kemarin. Sebelum jam 6 pagi katanya dia sudah jalan bersama beberapa kawan. Supaya bisa menikmati udara yang seger di jalan katanya. Tapi pas akan naik ke JLNT dia pun kaget, karena ternyata jalur itu hanya bisa digunakan oleh sepeda road bike saja. Sepeda biasa dilarang.

Sudah ada petugas yang mencegah pesepeda non-road bike untuk mauk di depan Casablanca. Petugas meminta pesepeda non-road bike untuk tidak masuk ke JLNT menggunakan pengeras suara. Kabarnya ada aparat yang berjaga di depan Citywalk Sudirman dan Karet Bivak juga, guna memastikan tidak ada pesepeda non-road bike di jalur khusus tersebut.

Berita Terkait : Lapangan Bola Penuh Di Tengah Malam

Kawan saya itu pun langsung nggak mood untuk melanjutkan perjalanan, dan pilih putar balik dari pada ke jalur permanen di Sudirman-Thamrin. Minggu malamnya dia pun curhat ke anak-anak. “Kesel saya tiba-tiba disuruh keluar karena sepeda saya berbeda (bukan jenis road bike),” ujarnya.

Dia pun ngerasa di diskriminasi karena kejadian ini. Soalnya menurut dia, sepedanya dan sepeda yang di pakai teman-temannya nggak bermasalah, bisa melaju dengan normal seperti pesepeda road bike lainnya. Jadi mestinya nggak boleh dibedakan begitu. “Harga sepeda road bike itu kan mahal lho. Saya merasa dibedakan,” curhatnya

Berita Terkait : Liburan Murah Di Bandung

Saya pun mengirimkan link berita tentang penjelasan Dishub DKI mengenai masalah ini, yaitu karena pertimbangan perbedaan kecepatan dan karena untuk sepeda biasa sudah ada jalur permanen. Tapi dia tetap nggak terima. “Sangat diskriminatif ini menurut saya. Kan sebenarnya bisa kami diberikan jalur lambat. Bukannya dibedakan begini,” kata dia.

Yaah saya juga nggak setuju sih karena dibedakan dengan alasan itu. Orang-orang bersepeda di hari Minggu itu kan untuk olah raga sambil bersantai. Bukan untuk mempersiapkan kejuaraan balap sepeda. Jadi nggak perlu lah ngebut-ngebut. Semoga Pemprov DKI bisa mengubah kebijakan tersebut. [Nanda Prananda/Wartawan Rakyat Merdeka]