Dewan Pers

Dark/Light Mode

Disuarakan Pimpinan DPR

Tak Perlu Gembar-Gembor, Tangkap Saja Mafia Migor

Kamis, 24 Maret 2022 07:50 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi. (Foto: Antara)
Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi. (Foto: Antara)

 Sebelumnya 
Mulyanto bilang, hingga saat ini emak-emak masih menjerit karena berhadapan dengan dua pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan. Minyak goreng murah tapi stok kosong, atau melimpah tapi mahal.

“Mereka (emak-emak) pasti jawabnya mesem-mesem saja. Sebab, dua-duanya adalah pilihan yang tidak mereka sukai,” tegas Mulyanto.

Berita Terkait : Astra Gandeng Polda Metro Jaya Perluas Pembinaan Kampung Tangguh Jaya

Sementara, Kepala Satuan Tugas (Satgas) Pangan Bareskrim Polri Inspektur Jenderal (Irjen) Helmy Santika mengatakan, kelangkaan dan nilai jual tinggi minyak goreng lebih disebabkan aksi panik konsumen dan penjual yang memborong komoditas tersebut.

“Sejauh ini, kita belum temukan praktik mafia minyak goreng,” ujar Helmy kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Berita Terkait : Ingrid Minta Pemerintah Turun Tangan Atasi Harga Migor

Helmy menilai, istilah praktik permafiaan minyak goreng di media terlalu berlebihan. Sebab, mafia adalah istilah persekongkolan yang dilakukan sekelompok besar orang, dengan cara-cara terstruktur dan masif, yang melibatkan banyak pihak di semua level, untuk tujuan kejahatan.

Dari penelusuran Satgas, kata Helmy, kelangkaan minyak goreng disebabkan karena masifnya aksi borong minyak goreng oleh konsumen. Aksi borong tersebut membuat para pedagang dadakan dan pelaku usaha personal tak mengikuti kebijakan Pemerintah.

Berita Terkait : Ganjar Minta Mendag Gercep Tangani Masalah Minyak Goreng

“Jadi temuan kami sementara ini, jauh lebih kepada personal pelaku usahanya, bukan disebabkan karena adanya praktik-praktik mafia,” kata Helmy. [TIF]