Dewan Pers

Dark/Light Mode

Bamsoet Ajak Seluruh Elemen Bangsa Atasi Ancaman Krisis Di Atas Krisis

Senin, 18 April 2022 11:17 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. MPR)
Ketua MPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR Bambang Soesatyo mengungkapkan, International Monetary Fund (IMF) pada 16 April 2022 telah mengeluarkan peringatan serius tentang dampak lanjutan pandemi Covid-19, ditambah dampak akibat perang Rusia-Ukraina. IMF menyebutnya sebagai 'Krisis di Atas Krisis'. Karenanya, dalam menjalankan Presidensi G20 serta menyambut rangkaian KTT G20 yang puncaknya akan diselenggarakan di Bali pada akhir 2022 ini, Pemerintah harus bisa menyampaikan proposal yang komprehensif untuk mencegah dan menanggulangi berbagai kerusakan yang terjadi akibat 'Krisis di Atas Krisis' tersebut.

Politisi yang akrab disapa Bamsoet ini menerangkan, Perang Rusia dan Ukraina telah berimplikasi pada harga komoditas, perdagangan, dan pasar finansial global. Berbagai harga komoditas terkait konsumsi rumah tangga dan energi yang semakin tidak terkendali, menyebabkan inflasi semakin menggila. 

Berita Terkait : Ingat Ya, Ancaman Covid Di Jakarta Belum Berhenti

"Bahkan, Amerika Serikat pada Maret 2022 turut merasakan inflasi tertinggi sejak 1982. Terlihat dari Data Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat yang melaporkan indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) naik 7,9 persen secara year-on-year (yoy). Hal ini bisa saja memengaruhi mitra bisnis Amerika Serikat di berbagai belahan dunia, seperti China, Uni Eropa, Kanada, Jepang, hingga Korea. Apabila sampai terjadi supply-demand yang tidak normal, maka dunia bisa jadi akan menuju kelesuan ekonomi," ujar Bamsoet, di Jakarta, Senin (18/4).

Ketua DPR ke-20 ini menjelaskan, selain memanfaatkan momentum presidensi G20, dalam menghadapi berbagai dampak 'Krisis di Atas Krisis' tersebut, Pemerintah juga harus menggalang soliditas dari berbagai elemen di dalam negeri. Khususnya dari para elite politik, harus bahu membahu membangun solidaritas untuk menyelesaikan segala persoalan bangsa. Berbagai kegaduhan bangsa yang tidak produktif, terlebih cenderung memecah belah, harus segera dihentikan. Seluruh energi bangsa harus disalurkan untuk pemulihan dan penguatan ekonomi, baik menghadapi pandemi Covid-19 yang belum berakhir maupun menghadapi dampak perang Rusia-Ukraina yang belum terlihat kapan akan berakhirnya.

Berita Terkait : Bamsoet Ajak Masyarakat Berikan Perhatian Ke Anak Yatim

"Sebagai early warning, Bank Dunia pada 5 April 2022 telah mengeluarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2022 bagi negara-negara Asia Timur dan Pasifik, termasuk Indonesia. Rata-rata terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat berbagai tekanan, salah satunya dari dampak perang Rusia-Ukraina. Pertumbuhan ekonomi Indonesia, misalnya, diperkirakan sebesar 5,1 persen pada 2022, lebih rendah 0,1 poin dari proyeksi yang dirilis pada Oktober 2021. Bahkan pada skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2022 bisa turun menjadi 4,6 persen," jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini juga meminta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang terdiri dari Kementerian Keuangan (Kepala KSSK), Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk meningkatkan koordinasi guna mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi dalam menghadapi 'Krisis di Atas Krisis'. Termasuk untuk mempertahankan momentum pemulihan ekonomi, serta menjaga stabilitas sistem keuangan.

Berita Terkait : RI Ajak Dunia Gotong Royong Atasi Pandemi Di Presidensi G20

"Sehingga inflasi bisa terkendali, stabilitas moneter dan sistem keuangan tetap terjaga, serta kredit dan pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, ekspor, serta inklusi ekonomi dan keuangan, bisa tetap meningkat. Lebih penting lagi juga mendukung UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional, melalui peningkatan pendalaman pasar keuangan dengan mendorong pembiayaan alternatif berbasis digital. Di antaranya melalui BWM Digital, P2P Lending dan Securities Crowdfunding," pungkas Bamsoet. [USU]