Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pancasila Jangan Cuma Diklaim Saat Pidato, Harus Diterapkan Di Kehidupan

Kamis, 2 Juni 2022 15:17 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo memukul gong saat membuka Sarasehan Pancasila, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/6). (Foto: Dok. MPR)
Ketua MPR Bambang Soesatyo memukul gong saat membuka Sarasehan Pancasila, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/6). (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo bersama Pendiri Institut Filsafat Pancasila Yoseph Umarhadi menyelenggarakan Sarasehan Pancasila. Acara ini dihadiri Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta Prof Frans Magnis Suseno, cendekiawan Yudi Latif, serta aktivis yang mewakili generasi muda milenial, Cinta Laura.

Bamsoet, sapaan akrab Bambang, menekankan, setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia senantiasa memperingati Hari Lahir Pancasila. Perayaan tersebut, tidak boleh sekadar ramai dalam diskusi, namun sepi dalam pelaksanaan.

Berita Terkait : Gus Halim: Selamat Jalan Buya Syafii Maarif, Guru Bangsa dan Pembimbing Kita Semua

"Pancasila tidak boleh hanya diekspresikan sebatas klaim kehebatan dalam ritual pernyataan dan pidato, atau diajarkan sebatas hafalan sejumlah butir moralitas. Melainkan harus diimplementasikan dalam sikap hidup keseharian. Toleransi dan tenggang rasa, misalnya, merupakan bagian kecil dari wujud sikap Pancasila yang harus dimasifkan dalam kehidupan keseharian setiap anak bangsa," ujar Bamsoet, saat membuka Sarasehan Pancasila, di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (2/6).

Ketua DPR ke-20 ini menjelaskan, ketika membicarakan Pancasila dengan sesanti atau wejangan Bhinneka Tunggal Ika, maka yang akan segera terbayang adalah kebesaran, keluasan, dan kemajemukan bangsa Indonesia. Ketika terbang dari Sabang menuju Merauke, akan melintasi 17.504 pulau, dengan melewati tiga zona waktu yang berbeda.

Berita Terkait : 3 Hal yang Perlu Diketahui Tentang QRIS Saat Belanja Di Pasar

Bamsoet melanjutkan, orang asing yang terbang di wilayah Indonesia, pasti mengira dirinya sedang melintasi begitu banyak negara. Tidak akan menyangka kalau yang dilintasi hanya satu negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang dihuni 1.340 suku bangsa, dengan 733 bahasa daerah yang berbeda, adat istiadat yang berbeda, serta dengan agama dan keyakinan yang berbeda-beda pula.

"Para pendiri bangsa berhasil menjadikan perbedaan sebagai sebuah akar untuk persatuan, dan meletakannya sebagai ruh bagi perjuangan dalam mewujudkan sebuah identitas perjuangan bangsa. Anugerah tersebut mengisyaratkan perlunya menghargai kemajemukan, sebagai kekayaan dan kekuatan bagi bangsa Indonesia. Karenanya, kerukunan haruslah menjadi kebutuhan bagi kita, karena kebhinnekaan adalah elemen pembentuk bangsa. Kebhinnekaan bukan hanya fakta sosiologis yang hanya diterima sebagai sesuatu yang given, tetapi harus terus menerus diperjuangkan," jelas Bamsoet.

Berita Terkait : Jakarta Klaim Ikut Kampanyekan Energi Ramah Lingkungan

Wakil Ketua Umum SOKSI ini menerangkan, patut disyukuri bahwa Bangsa Indonesia memiliki identitas yang berbasis pada nilai-nilai luhur ke-Indonesiaan, yang berakar pada Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat konsensus dasar bangsa tersebut memberikan sebuah alasan dan tujuan utama yang membuat bangsa ini dapat bertahan dan hadir hingga sekarang.

"Gagasan menghadirkan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) yang dirintis MPR, selain dalam rangka menjamin kesinambungan dan keterpaduan pembangunan antarperiode kepemimpinan tanpa bergantung pada momen elektoral, juga untuk meng-aktualisasikan Pancasila ke dalam kerangka operatif, dengan cara mempertemukan nilai-nilai luhur falsafah bangsa dengan aturan dasar yang diatur dalam konstitusi. PPHN dengan paradigma Pancasila ini akan menjadi arahan dalam pencapaian tujuan bernegara, yakni mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur," pungkas Bamsoet.■