Dewan Pers

Dark/Light Mode

Fokus Pileg Ketimbang Pilpres

Partai Ka’bah Rasional Jaga Dan Rawat Eksistensi

Minggu, 17 April 2022 08:00 WIB
Kader PPP mengibarkan bendera partainya. (Foto: Istimewa)
Kader PPP mengibarkan bendera partainya. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memilih fokus meningkatkan suaranya dalam Pemilu Legislatif (Pileg) daripada Pemilihan Presiden (Pilpres). Partai Ka’bah sedang berusaha keras mengejar lolos ambang batas parlemen alias Parliamentary Threshold sebesar 4 persen pada Pemilu 2024.

Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin mengatakan, sikap politik Partai Kabah itu masuk akal. “Sangat rasional dalam Rapimnas kemarin, PPP akan fokus pada pemilu legislatif 2024, karena posisinya amat rawan. Dari sembilan partai di parlemen, PPP paling buncit. Ini warning bagi Partai Ka’bah,” kata Ujang kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Berita Terkait : PUPR Fokus Pengembangan Food Estate Di Kalteng

Dia menyarankan, partai pimpinan Suharso Monoarfa itu harus melakukan kerja keras dan lompatan yang diperlukan. Jangan sampai seperti partai-partai yang gagal pada Pemilu 2019. Menurutnya, PPP adalah partai Islam tua yang punya sejarah panjang dan harus terus bersaing dengan partai lama maupun baru. “Jangan sampai hilang dari peredaran,” tuturnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review ini menilai, strategi PPP untuk fokus Pileg bagus dan positif untuk mempertahankan eksistensi partai. Sebab, tidak ada tokoh yang kuat dari internal PPP untuk diajukan sebagai Capres. “Kalau mikir Pileg sekaligus Pilpres dengan tokoh eksternal, jadi rugi. Fokusnya terpecah,” ingat Ujang.

Berita Terkait : Jaksa Hartono Nunggu Restu Orang Tua Dan Hasil Survei

Untuk itu, PPP harus mulai mencari calon legislatif di setiap tingkatan yang keterpilihannya tinggi. Rangkul tokoh-tokoh kunci di masyarakat. Selain itu, program-program partai harus mulai kekinian untuk merangkul kaum milenial dan meraup kembali suara masyarakat Islam yang beralih ke partai baru usai Reformasi.

“Memang ini tugas berat memanggil tokoh-tokoh yang dulu di Ka’bah yang kini di partai lain. Tapi kalau mau kerja lebih keras, khususnya untuk segmen pemilih Nahdlatul Ulama, PPP dapat mengambilnya. Apalagi kini PBNU tidak lagi seragam,” paparnya.

Berita Terkait : Parpol Senayan Dan Relawan Kompak Keras Menentang

Sementara pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Siti Zuhro menambahkan, jika tidak pintar-pintar berstrategi, PPP bisa mengulang kegagalan Hanura. Untungnya, PPP saat ini tidak terjadi friksi alias masih solid.

“Harus jadi partai yang mudah bagi anak muda untuk beradaptasi. Bukan lagi partai tua. Cari Caleg yang mampu menjadi pendulang suara anak muda. Tidak bisa lagi PPP menggunakan cara-cara standar,” kata Prof Siti dalam pesannya.
 Selanjutnya