Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sudah Survei Lokasi Deklarasi Di IKN

Prabowo-Imin Kawin Beneran Apa Paksaan?

Jumat, 24 Juni 2022 07:45 WIB
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) saat bertemu Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. (Foto: Dok. PKB)
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) saat bertemu Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. (Foto: Dok. PKB)

RM.id  Rakyat Merdeka - PKB terus kasak-kusuk untuk menggolkan duet Prabowo Subianto-Muhaimin Iskandar (Imin) di Pilpres 2024. Saking seriusnya, PKB bahkan sudah melakukan survei lokasi yang tepat di IKN Nusantara, Kalimantan Timur, untuk mendeklarasikan pasangan ini. Yang bikin aneh, dari sisi Gerindra, justru kalem-kalem saja. Pertanyaannya, apakah Prabowo-Imin ini akan kawin beneran atau karena dipaksa ya?

Isu Prabowo-Imin akan berduet ini, pertama muncul setelah keduanya melakukan pertemuan di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (18/6). Empat hari berselang, Rabu (22/6), elite Gerindra dan PKB kembali bertemu, di sebuah tempat makan. Yang hadir dari Gerindra adalah Sekjen Ahmad Muzani, Ketua Harian Sufmi Dasco Ahmad, dan Waketum Sugiono. Sementara dari PKB ada Sekjen Hasanuddin Wahid, Waketum Jazilul Fawaid, dan Ketua DPP Syaiful Huda.

"Rabu sekitar jam 17.00 kami Partai Gerindra dan PKB silaturahmi. Ngopi bareng dan berdiskusi mematangkan agenda kerja sama dan langkah-langkah politik ke depan. Tentu yang namanya koalisi perlu pemikiran-pemikiran besar untuk membangun dan memajukan NKRI," kata Ketua DPP PKB Lukmanul Khakim.

Dari ngopi-ngopi itu, kata Lukman, menghasilkan gagasan menarik. Kedua belah pihak mempertimbangkan lokasi deklarasi koalisi yang mereka bentuk untuk menghadapi Pilpres 2024.

Berita Terkait : Markas NasDem Ramai Didatangi Bos Parpol, Kali Ini Giliran AHY

Ada banyak tempat yang telah masuk list. Namun, PKB dan Gerindra merasa, tempat untuk deklarasi itu harus fenomenal, seperti agenda yang akan mereka langsungkan. "Kami juga ada rencana untuk survei lokasi deklarasi. Salah satu tempat yang dipertimbangkan adalah di IKN," ungkap Lukman.

Dia pun mengklaim, duet Prabowo-Imin mendapat sambutan sangat positif dari akar rumput. Pihaknya sempat melakukan diskusi panjang setelah pertemuan Prabowo-Imin. Hasilnya, animo kader, simpatisan, dan masyarakat cukup bagus, karena banyak yang menyukai duet Prabowo-Imin.

"Responsnya luar biasa. PKB dan Gerindra solid bersama sama menjemput kemenangan," kata Lukman, dengan pede.

Soal rencana deklarasi ini, Gerindra ogah berkomentar. Beberapa petinggi partai berlambang kepala garuda itu, tidak merespons saat dikonfirmasi rencana deklarasi Prabowo-Imin di IKN.

Berita Terkait : Segera Diterapkan Kemenkeu, BKI Dukung Penerapan Pajak Karbon

Kalau jadi kawin, bagaimana peluang Prabowo-Imin? Simulasi yang dilakukan Charta Politika dengan tiga pasang calon, ternyata Prabowo-Imin kurang nendang. Prabowo-Imin hanya ada di urutan tiga dengan 24,8 persen. Duet tersebut kalah dari Ganjar Pranowo-Ridwan Kamil yang memperoleh 36,5 persen dan Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono yang memperoleh 28,8 persen.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai, koalisi Gerindra-PKB cukup menarik. Namun, jika dihitung dari ketokohan, Prabowo-Imin bukan pasangan ideal. Bahkan, cenderung mendegradasi ketokohan Prabowo itu sendiri. Karena itu, dia menganggap wajar jika sikap Gerindra masih dingin.

"Jangan dianggap lahirnya Muhaimin bisa menarik simpati atau gerbong NU seperti Jokowi-Ma'ruf. Sebab, selama ini, Muhaimin itu orang politik. Bukan tokoh agama sebagai Kiai Ma'ruf di NU," ulas Dedi.

Dedi melanjutkan, kekuatan parpol dan loyalitas masing-masing kader dan simpatisan koalisi ini berpeluang memenangkan Pemilu, tapi tidak pada Pilpres. Apalagi, Gerindra bakal lebih ngotot untuk menguji Prabowo di Pilpres untuk terakhir kalinya. Maka, memasangkan Prabowo-Imin bisa menjadi seperti kawin paksa.

Berita Terkait : AHY Sukses Pimpin Demokrat Meski Di Luar Pemerintahan

"Memilih Muhaimin sebagai pasangan, bukan keputusan yang bijak. Prabowo semestinya memilih Puan Maharani. Karena Puan dari sisi kepartaian memiliki jaminan bahwa pemilih PDIP yang sangat dominan itu bisa bergeser ke Puan. Dengan kondisi itu, saya kira Prabowo punya potensi menang," saran Dedi.■