Dewan Pers

Dark/Light Mode

Cegah Polarisasi

Nih, Tiga Jurus Jitu Demokrat

Jumat, 1 Juli 2022 07:40 WIB
Koordinator Juru Bicara DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra. (Foto: Antara)
Koordinator Juru Bicara DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Partai Demokrat punya tiga jurus jitu mencegah polarisasi yang terjadi pada dua pemilu sebelumnya tidak terulang pada Pemilu 2024.

Koordinator Juru Bicara DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra menjelaskan, untuk mengatasi polarisasi itu, harus diawali dengan sikap yang baik dari elite politik. Para elit harus memberikan contoh. Terbuka, menjaga komunikasi dengan semua pihak, dan menghargai perbedaan.

Berita Terkait : Polarisasi Akan Menguat?

Ketika terjadi peristiwa perbedaan pendapat antar elit yang berbeda kubu. Penting bagi para elit ini untuk tidak memandang sebagai musuh. Melainkan, sebagai lawan berdialektika dan mitra dalam membangun negeri.

Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) Partai Demokrat ini melanjutkan. Resep kedua, para elit maupun parpol harus terbiasa dann siap berkompetisi. Jangan sampai alergi berkompetisi dan memandang pesta demokrasi ini semata kepentingan elektoral dan kemenangan semata. Atau bahkan, menghalangi calon lain untuk muncul berkontestasi.

Berita Terkait : Sukidi: Polarisasi Harus Segera Dituntaskan!

“Apalagi, memastikan hanyadua kubu yang berlaga di Pilpres,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Belajar pada penyelenggaraan Pilpres 2014 dan 2019 yang hanya diikuti dua kubu, membuat keterbelahan di masyarakat semakin mendalam. Oleh karenanya, diperlukan ruang untuk berkoalisi, dan memunculkan capres-cawapres minimal tiga pasangan di Pilpres 2024 untuk mencegahnya.

Berita Terkait : Cegah Karhutla Di Riau, Ini Jurus KLHK

Cara ketiga, kata dia, dengan menghentikan penyebaran politik kebencian. Termasuk, melakukan framing, dan labelling yang sifatnya merusak. Janganlah, demi mengejar kemenangan, menggunakan upaya menghancurkan lawan dalam kontestasi.

Alumni Universitas Indonesia (UI) ini menilai, tidak elok jika para elit maupun kontestan pesta demokrasi menyerang atau menguliti habis kekurangan pribadi lawan, tanpa mengedepankan adu gagasan dan program. ■