Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sukidi: Polarisasi Harus Segera Dituntaskan!

Rabu, 29 Juni 2022 07:40 WIB
Pemikir Kebhinekaan, Sukidi. (Foto: Istimewa)
Pemikir Kebhinekaan, Sukidi. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemikir Kebhinekaan, Sukidi, menganalisa Indonesia dalam kondisi keprihatinan nasional. Persatuan dan kesatuan bangsa telah terkikis tidak hanya di level elite, tapi warga negaranya. Polarisasi yang ter­jadi pada dua pesta demokrasi lalu harus segera dituntaskan!

“Apalagi saat ini menjelang Pemilu 2024,” ujar Sukidi, saat menjadi pembicara di acara bertajuk ‘Menegakkan Persatuan dalam Kebhinekaan’ yang digelar Pusat Studi Kebangsaan Indonesia (PSKI) Universitas Prasetiya Mulya, secara daring, kemarin.

Doktor Universitas Harvard, Amerika Serikat ini menganalogikan, Republik Indonesia yang didirikan berbasis persatuan oleh para pendiri bangsa ini, justru mengalami erosi kemunduran dalam persatuan sesama anak bangsa.

Berita Terkait : Subsidi Tepat Sasaran Atasi Gejolak Harga Minyak Tinggi

Hal itu, katanya, tergambar dari peristiwa intoleransi. Misalnya, di suatu wilayah di Bekasi, butuh waktu hampir 20 tahun untuk bisa mendirikan gereja. Pun, ormas Islam ke dua terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah, tidak bisa mendirikan masjid di Aceh.

“Ini masalah bersama, harus dipecahkan bersama. Perbedaan itu sebenarnya sumber harmoni. Suatu ikatan kita untuk hidup,” terangnya.

Cendikiawan Muhammadiyah ini menjelaskan, kebhinekaan adalah rahmat Tuhan, pondasi pemikirannya itu keagamaan. Bahkan, Al-Quran menekankan, Tuhan menciptakan manusia itu bukan untuk saling membenci.

Berita Terkait : Polarisasi Cebong-Kadrun Sudah Saatnya Diakhiri

Jadi, pengakuan Indonesia itu adalah bangsa yang berbhinneka tunggal ika saja tidak cukup. Pengakuan itu, harus ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata. Seperti halnya yang digaungkan Sang Proklamator, Bung Karno yang sedari dulu menggaungkan semangat gotong-royong.

“Kebhinekaan itu bahasa dialog, untuk gotong-royong satu sama lain. Kebhinekaan tegak karena keterlibatan aktif setiap warga negara,” paparnya.

Resep jitu lainnya untuk mencegah polarisasi terjadi di Pemilu 2024, yaitu dengan merayakan perbedaan. Kata kuncinya, perbedaan itu bukan untuk disatukan. Tetapi dirayakan. Perbedaan selalu menjadi hukum Tuhan yang harus dirawat dan dijaga.

Berita Terkait : Habiskan Energi, Perseteruan Sesama Tokoh Batak Harus Segera Diakhiri

Terakhir, Sukidi mengangkat kisah Soekarno yang mengimajinasikan lima sila di Pancasila dengan mengingat kepada lima rukun Islam. Ini memberikan makna penting, legitimatisi simbolik keagamaan bahwa Pancasila bukan hanya selaras dengan spirit, tapi juga nilai keislaman. ■