Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pasang Surut Suharso Monoarfa Di PPP

3 Kali Dipecat Partai Ka'bah, Tapi Tetap Setia

Kamis, 22 September 2022 19:50 WIB
Suharso Monoarfa. (Foto: Ist)
Suharso Monoarfa. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Suharso Monoarfa bukanlah sosok baru bagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia memulai karir di berlambang Ka'bah tersebut saat menjadi anggota DPR RI dari dapil Gorontalo, pada tahun 2004-2009.

Setelah berkarir di Senayan, Suharso kemudian mendapatkan kepercayaan dari Presiden SBY sebagai Menteri Perumahan Rakyat pada 2009. Karena alasan pribadi, ia mengundurkan diri dari jabatan tersebut di tahun 2011.

Sepak terjang Suharso tak lantas berhenti di PPP. Pada tahun 2014, ketika PPP berada pada kubu Prabowo-Hatta, dirinya justru teguh mencalonkan Joko Widodo (Jokowi) sebagai capres. Imbasnya Suharso Monoarfa dipecat dari PPP.

Kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014, kemudian membawa Suharso masuk dalam jajaran Wantimpres. Kasus korupsi Ketum PPP Roharmuzy membuat parpol Islam itu bergolak.

Berita Terkait : Pergantian Suharso Monoarfa Tak Ubah Posisi PPP Di KIB

Suharso pun ditunjuk sebagai Plt Ketum PPP pada 2019. Dan akhirnya pada 19 Desember 2020 dalam Muktamar IX di Makassar, Suharso terpilih sebagai Ketum PPP definitif.

Melihat pasang surut karir Suharso di PPP, pengamat politik Jerry Massie menilai bahwa figur Suharso Monoarfa adalah tokoh besar di parpol Islam itu.

Dia pernah tiga kali mengalami dipecat oleh PPP. Namun dia tidak pernah sekalipun keluar atau mundur dari PPP.

"Justru Suharso bisa dikatakan mampu menyelamatkan PPP dari keterpurukan, kala menjelang Pemilu 2019 ketika Ketum Rommy tertangkap OTT KPK di Surabaya," ujar Jerry di Jakarta, Kamis (22/9).

Berita Terkait : Prahara Di Markas Ka`bah Tambah Membara

Direktur Political and Public Policy Studies (P3S) ini melihat Suharso kala itu segera turun ke basis konstituen tradisional PPP guna membangun ulang kepercayaan pemilih yang hancur akibat kasus korupsi Rommy.

Hasilnya jelas, PPP ketika itu diprediksikan sejumlah survei bakal gagal masuk Senayan, malah berhasil mendapatkan 19 kursi.

Di tengah upaya untuk kembali meningkatkan posisi elektoral PPP di Pemilu 2024, Suharso justru dibegal lewat kudeta Serang. Jelas ini akan melemahkan PPP dari dalam dan mempersulit konsolidasi.

Namun dengan jiwa besarnya, Suharso justru yang tidak melakukan perlawanan apapun. Dia lebih memilih fokus pada tugasnya sebagai Menteri PPN/ Bappenas, terutama mengurus soal percepatan IKN.

Berita Terkait : Partai Ka’bah Pecah, KIB Goyah

"Sosok Suharso bisa menjadi contoh bagaimana konsistensi dan sikap kenegarawanan dalam berpolitik. Meski dirinya dihantam kudeta politik namun ia tak pernah mutung, keluar dari partai dan apalagi mendirikan parpol sempalan. Kader muda PPP patut mencontoh seorang Suharso Monoarfa," tandasnya. ■