Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Pengalaman itu dia pakai dalam rangka mengelola dan mengatur negara. Jokowi menekankan jangan sampai negara sebesar Indonesia dibandingkan dengan Haiti. Sebab, Indonesia saat ini sudah menjadi anggota G20 dengan PDB mencapai lebih dari 1 triliun dolar AS. "Kok dibandingkan dengan Haiti. Ini namanya membandingkan kurang hati-hati. Sehingga yang disebut Haiti," jelasnya.
Sementara, Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo- Sandiaga, Andre Rosiade menilai apa yang disampaikan Jokowi bentuk kepanikan. Kata dia, Jokowi sudah mulai stres sehingga balik mengeluarkan fitnah dan hoaks baru. Misalnya saja, menuduh menggunakan propaganda ala Rusia.
Baca juga : Jokowi Bagikan 257 Sertifikat Tanah Wakaf
Menurut Andre, kepanikan itu disebabkan selisih elektabilitasnya dengan Prabowo yang makin menipis. Dikarenakan kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan. Misalnya saat Kiai Maimun Zubair, yang mestinya mendoakan Jokowi malah mendoakan Prabowo. "Saya rasa Pak Jokowi sebagai kandidat terlihat panik,” ujar Andre.
Pengamat politik Ujang Komarudin memprediksi, suhu politik jelang April akan semakin memanas. Adu argumen dan serangan akan makin gencar dilakukan dua kubu. Karena itu, dia berharap publik menanggapinya dengan kepala dingin. Kata dia, sekeras apa pun persaingan memperebutkan kursi RI 1, kedua kubu jangan melampaui batas. "Kan kedua kubu sudah sepakat berkampanye damai dan tanpa hoaks. Sehingga kampanye tidak saling serang, menghujat, penuh kebencian, fitnah dan saling menjatuhkan," kata Ujang, kemarin.
Baca juga : Jangan Lawan Hoaks Dengan Hoaks
Menurut Ujang, di masa kampanye ini sangat terasa pertentangan dua kubu hingga ke akar rumput. Panas. Hal ini terjadi karena capres yang bertarung masih sama dengan 5 tahun lalu. Mempertemukan kembali Jokowi dan Prabowo. Masyarakat yang sudah terpolarisasi sejak Pilpres 2014 kini semakin menjadi-jadi.
Hal ini ditambah dengan banyaknya intrik politik menggunakan kampanye negatif. Tidak aneh jika politik makin panas dan ganas. "Namun, apapun strategi kampanye yang digunakan oleh kedua kubu sejatinya harus tetap menjaga persaudaraan, persatuan dan kesatuan," pungkasnya. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya