Dark/Light Mode

Kenang Tragedi 27 Juli 1996

PDI Perjuangan Percaya Hati Nurani Mampu Mengalahkan Tirani

Senin, 27 Juli 2020 17:38 WIB
Sekjend DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. (Foto : Dwi Pambudo/RM)
Sekjend DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. (Foto : Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan memperingati peristiwa 27 Juli 1996 dengan tabur bunga, doa dan menggelar webinar di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Senin (27/7/2020).

Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengatakan, peristiwa penyerangan di kantor DPP PDI P pada 27 Juli 1996 merupakan peristiwa kelam yang dilakukan rezim Orde Baru.

“Pemerintah Orde Baru selalu memilih jalan kekuasaan terhadap rakyatnya sendiri. Serangan tersebut tidak hanya menyerang simbol kedaulatan Partai Politik yang sah, namun juga membunuh demokrasi. Kekuasaan dihadirkan dalam watak otoriter," tutur Hasto dalam keterangan tertulis, kepada Rakyat Merdeka, Senin (27/7).

Baca juga : Rapat Jangan Lama-lama, Nggak Usah Pakai Makan Minum

Dia mengatakan, ketika itu kantor PDI luluh lantak, namun sejarah mencatat, energi perjuangan tidaklah surut.

Menurutnya apa yang dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri yang memilih jalur hukum, di tengah kuatnya pengaruh kekuasaan yang mengendalikan seluruh aparat penegak hukum sangatlah menarik.

"Keyakinan terhadap kekuatan moral terbukti mampu menggalang kekuatan demokrasi arus bawah," katanya.

Baca juga : Mulai Jumat Besok, KAI Tambah Perjalanan Dari dan Menuju Jakarta

Kekuatan moral itu mendapatkan momentumnya ketika seorang hakim di Riau yang bernama Tobing, mengabulkan gugatan Ibu Megawati.

"Disinilah hati nurani (mampu) mengalahkan tirani," tegasnya.

Kekuatan moral yang sama menghadirkan politik moral ketika dengan lantang Megawati Soekarnoputri meneriakkan ‘Stop Hujat Pak Harto’.

Baca juga : KPK Incar Nurhadi Jadi Tersangka Pencucian Uang

Padahal saat itu publik, lanjut Hasto mengetahui bagaimana praktek deSukarnoisasi tidak hanya menempatkan Bung Karno dalam sisi gelap sejarah, namun juga keluarga Bung Karno mendapatkan berbagai bentuk tekanan dan diskriminasi politik.

"Ketika saya menanyakan sikap Ibu Mega terkait hal itu, keluarlah jawaban yang diluar perkiraan saya:

“Saya tidak ingin sejarah terulang, seorang Presiden begitu dipuja berkuasa, dan dihujat ketika tidak berkuasa. Rakyat telah mencatat apa yang dialami oleh keluarga Bung Karno. Karena itulah, mengapa Bung Karno selalu berada di hati dan pikiran rakyat. Kita tidak boleh dendam karena hanya melihat masa lalu, dan melupakan masa depan," papar Hasto mengisahkan sikap Megawati saat itu. [JAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.