Dewan Pers

Dark/Light Mode

Bangsa Yang Kehilangan Inti

Kamis, 19 Mei 2022 06:45 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada artis tidak bisa mengupas salak, jadi heboh. Urusan kaos oblong, juga ramai. Para politisi yang melakukan lobi-lobi, ketika ditanya, jawabannya “hanya ngomongin soto ayam”.

Dalam kadar tertentu, bangsa ini telah kehilangan substansi, inti, akar masalah, sehingga urusan remeh temeh menjadi penting, dan urusan penting jadi remeh temeh.

Berita Terkait : Sniper Di Kebun Binatang

Fenomena ini sudah berlangsung cukup lama. Dari pemilu ke pemilu, isu-isu “ringan dan lucu” selalu mewarnai atmosfer politik Indonesia.

Yang menonjol bukan substansinya, tapi ribut-ribut soal pakai jas atau kemeja, salam satu jari atau dua jari, tempe setipis ATM, cara duduk atau posisi berdiri dan sebagainya.

Berita Terkait : Pilpres 2024 Ikut Pola Filipina?

Ketika isu-isu ringan tersebut mewarnai panggung politik, isu-isu strategis bisa terabaikan. Fokus pun teralihkan. Prioritas bisa berantakan. Yang tidak penting dikedepankan-yang penting, diabaikan.

Akibatnya, pihak-pihak tertentu yang punya misi terselubung, cukup melempar isu ringan, ditangkap masyarakat, dibicarakan berhari-hari: misi sukses. Apalagi publik sangat mudah dialihkan fokusnya, dikesampingkan prioritas dan substansinya.

Berita Terkait : Marcos, "Enak Zamanku Tho"

Darimana fenomena ini berasal? Seperti lingkaran setan. Setiap pemilu, tim kampanye yang paham psikologi publik seperti ini, memanfaatkannya dengan baik. Digoreng berhari-hari untuk menarik perhatian pemilih. Isu-isu ringan ini dipupuk terus untuk menjual calon yang didukungnya atau membenci lawannya. Benih ini tumbuh subur dari waktu ke waktu.
 Selanjutnya