Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sri Lanka Dan Pesan Filipino

Selasa, 12 Juli 2022 06:40 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Give our stolen money back”. “Balikin duit kami yang dicuri”.

Kalimat itu ditulis pengunjuk rasa di truk milik polisi. Pakai cat putih. Truk itu menjadi barikade di pintu masuk kediaman Presiden Sri Lanka, di ibukota Kolombo. Kantor berita AP, memuat foto itu, Minggu (10/7).

Meski ditulis seadanya, kalimat itu bermakna sangat dalam. Rakyat Sri Lanka menilai, negerinya mengalami salah urus. Termasuk uang rakyat yang dikorupsi. Sampai negara bangkrut. Tak punya uang lagi. Tak mampu bayar utang.

Barikade itu tak ada artinya. Rakyat berhasil menduduki kediaman Presiden. Mereka duduk-duduk santai dan nyebur ke kolam renang. Main piano dengan keahlian seadanya.

Rakyat yang merangsek ke kediaman Presiden ada juga yang duduk santai berhimpitan di sofa mewah. Sambil ngangkat kaki. Sandal jepitnya ditaruh asal-asalan di lantai.

Berita Terkait : RKUHP, Jangan Petak-Umpet

Ada juga yang memparodikan sidang IMF di meja panjang di ruang konferensi. Seolah-olah IMF sedang bersidang membahas nasib negara berpenduduk 22 juta jiwa itu.

Pemerintah Sri Lanka memang sedang meminta keringanan utang dari lembaga dan negara donor. Permintaan keringanan ini sudah belasan kali, sebelum mereka bangkrut.

Saat ini, antri BBM, antri makan, antri gas, antri apa saja menjadi pemandangan sehari-hari di Sri Lanka. Sementara yang diantre, BBM atau roti, semua habis. Kosong.

Korupsi, termasuk korupsi dana utang, hanya salah satu sebab. Sebab lainnya, seperti yang disampaikan pemerintah, adalah krisis di Ukraina dan pandemi Covid-19.

Tapi rakyat dan pengamat menilai, penyebab utamanya: salah urus negara. Bukan karena pandemi atau Ukraina. Karena, benih krisis Sri Lanka tumbuh sebelum pandemi dan perang Ukraina.

 

Berita Terkait : PMK Bisa Nanduk Siapa Saja

Kondisi ini mengingatkan kita pada peristiwa Mei 1998 ketika Presiden Soeharto dijatuhkan oleh kekuatan rakyat. Hanya saja, saat itu, rakyat menduduki gedung MPR/DPR.

Saat ini, Sri Lanka sangat kacau dan menyedihkan. Setelah Presidennya kabur, partai oposisi Sri Lanka bersatu membentuk pemerintahan. Menentukan masa depan negaranya.

Skenarionya bisa begini:

Di tubuh oposisi terjadi perdebatan alot. Ada potensi berebut kekuasaan. Setelah mereka gagal konsolidasi, kekuatan lama bangkit lagi. Kembali berkuasa. Dan apa yang diperjuangkan dengan berdarah-darah hanya tinggal nostalgia dan catatan sejarah.

Karena itu, Sri Lanka harus belajar dari banyak negara yang pernah melewati jalan yang sama. Saran itu, antara lain datang dari Filipina.

Berita Terkait : Politik Sonder Kepekaan

“Orang-orang Sri Lanka yang terhormat. Jangan membuat kesalahan yang sama seperti yang kami lakukan. Mereka harus membayar kejahatan dan korupsi mereka, sekarang. Jangan beri ampun. Salam hormat dari seorang Filipina yang malu dengan negaranya yang melupakan sejarah”.

Penulis pesan itu, seorang netizen bernama JR Santiago.

Dia merujuk kepada pemerintahan negaranya yang sekarang kembali diperintah keluarga Marcos. Ferdinand Marcos sr, yang dilumuri korupsi, kediktatoran dan pelanggaran HAM diturunkan rakyat lewat gelombang people power pada 1986. Pada Pilpres 2022, putra Marcos, Bongbong, kembali ke kursi Presiden.

Begitulah sejarah berulang. Kapan pun. Di mana pun. ■