Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pertarungan Survei

Jumat, 15 Juli 2022 06:10 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Di zaman digital ini, pertempuran memenangkan citra dan framing persepsi publik semakin dahsyat. Pilihan instrumennya semakin banyak dan bervarian: nyaris meliputi darat, laut, dan udara. Setiap penjuru harus dimenangkan, oleh jenis pasukan sendiri-sendiri. Mendengari Pilpres 2024, para kandidat pun semakin all out memenangkan medan perang opini.

Serangan yang dilancarkan seperti tidak mengenal ruang dan waktu. Hampir terjadi tiap detik. Setiap satu peristiwa ditafsir ya, diframing sedemikian rupa, agar menguntungkan masing-masing kandidat. Semua dilakukan demi perubahan dampak elektoral.

Berita Terkait : Banyak Utang Tak Berarti Miskin

Salah satu instrumen framing yang dampaknya cukup kuat ialah kegiatan survei. Survei telah dipakai sebagai alat meyakinkan publik tentang peta dukungan masing-masing bakal calon. Sungguh, survei kini telah dimodifikasi, di-engineering untuk tujuan-tujuan pemenangan politik. Ironi.

Kalau melihat tujuan generiknya, survei dilakukan untuk mendeteksi dini posisi elektoral seorang calon kontestan politik. Dengan deteksi dini, ia bisa melakukan pemetaan awal siapa lawan, kelompok mana saja yang menjadi basis utama dukungan, potensi tambahan dukungan, isu-isu apa yang jadi concern pemilih untuk di-address dalam kampanye, dan lain sebagainya. Secara berkala, survei digelar dengan tujuan memberi manfaat kepada internal tim sukses berupa informasi seputar kans dukungan politik.

Berita Terkait : Hancurnya Reputasi

Secara lebih rinci, survei sejatinya memberi informasi progress meningkat tidaknya tiga aspek: popularitas, kesukaan, dan keterpilihan calon. Informasi itu sekaligus jadi alat ukur kerja tidaknya, efektif tidaknya kinerja, dan atau tepat tidaknya sasaran program kampanye yang dijalankan. Jadi, sesungguhnya survei lebih punya manfaat ke dalam diri para kontestan dan bukan ke ranah konsumsi publik.

Sekarang, yang terjadi adalah survei dan ragam lembaga penyelenggaranya telah menjadi makhluk politik ciptaan para kontestan. Semua lembaga dan hasil surveinya ditengarai telah menjadi bagian dari tim pemenangan kubu tertentu. Tidak mudah lagi mendeteksi independensi dan integritas survei dan lembaga penyelenggaranya. Semua seperti mempertaruhkan integritas diri dan lembaganya.

Berita Terkait : RUU KUHP Dan Penghinaan Pejabat

Menyaksikan ini semua, rakyat sejatinya telah dan harus lebih cerdas memilih. Lakukanlah fact check secara kritis di tengah derasnya arus informasi di seluruh jejaring media massa maupun media sosial. Terhadap hasil survei yang tersebar pun, kita harus kritis. Karen ternyata survei pun tidak steril dari hoaks. Paling kurang, tanyalah hati kecil sebelum akhirnya menjatuhkan dukungan. Semoga Tuhan terus memberkati, membimbing bangsa ini ke arah yang benar. Aamiin. ■