Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tragedi Di Atas Pesta

Kamis, 22 September 2022 06:40 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Bukan hangat lagi. Tapi panas. Ada saja manuver politik yang muncul setiap hari yang kian memanaskan suhu politik. Ini kurang sehat.

Ada yang merasa dijegal, ada yang merasa belum yakin dengan rekan koalisinya. Ada pula yang elektabilitasnya tinggi, tapi belum punya tiket dan tidak punya perahu parpol. Harap-harap cemas.

Berita Terkait : Pilpres Dan Keteladanan

Atau sebaliknya, elektabiltasnya rendah, tapi statusnya “pemilik partai”. Tiket aman. Sudah di tangan. Tapi perlu booster beberapa kali. Sementara di kamar sebelah, ada yang ngintip peluang sambil menunggu dan berdoa, “semoga tiket itu jadi milikku”.

Inilah yang terjadi dalam jagad politik Indonesia, beberapa tahun jelang pemilu. Saling menjatuhkan. Gaduh. Ribut. Yang diributkan dan diperebutkan soal jasa dan kehebatan, “siapa yang bangun mercu suar di tengah lautan, atau siapa yang bangun rumah kosong itu”.

Berita Terkait : Teka-Teki Pasca Covid

Semua saling serang dan sindir. Ingin menonjolkan kehebatan masing-masing. Yang lain mencari dukungan kanan-kiri, bikin tim-itu, seolah-olah pemilu digelar besok pagi.

Rakyat dan “cukong” menyaksikan si A sibuk ketemu si B, si B ketemu si C, si C bingung mau ketemu siapa, dan seterusnya. Yang dibicarakan, menu dan kursi serta siapa yang akan duduk di kursi itu. Sementara kayu, paku, amplas dan catnya belum jelas siapa yang menyiapkan. Begitu saja dari pemilu ke pemilu.

Berita Terkait : Bagaimana Setelah Bjorka?

Belum ada ide atau gagasan-gagasan besar bagaimana bangsa ini ke depan. Mau dibawa kemana. Untuk urusan petani, nelayan atau korupsi misalnya, dari dulu selalu ada “gagasan besar”, paling tidak di “visi-misi”, tapi, ya… relatif begitu-begitu saja.
 Selanjutnya