Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pilpres Dan Keteladanan

Selasa, 20 September 2022 06:36 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Jalur menuju Pilpres 2024 kian ramai dan panas. Saling sindir, serang dan buka-bukaan. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) misalnya, mengkhawatirkan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang akan mengupayakan supaya Pilpres 2024 hanya diikuti dua pasang capres/cawapres.

Bisakah? Bisa iya, bisa tidak. Waktu yang membuktikan. Masih harus ditunggu sampai pencalonan capres/cawapres dibuka, tahun depan.

Pilpres 2024 bisa juga diikuti tiga pasangan. Bukan dua. Seorang tokoh memprediksi, ketiga pasangan itu akan berporos di Megawati, Jokowi dan Prabowo.

Berita Terkait : Teka-Teki Pasca Covid

Artinya, NasDem, Demokrat dan PKS yang selama ini berpotensi membentuk koalisi sendiri, “terpaksa” merapat ke tiga poros tersebut.

Atau, kalau NasDem tidak balik badan, maka ketiga parpol ini akan membentuk “koalisi” sendiri.

Apa yang disampaikan SBY sebenarnya sudah menjadi pembicaraan umum politik. PDI-P misalnya sudah mewacanakan “dua pasang capres/cawapres” saja.

Berita Terkait : Bagaimana Setelah Bjorka?

Wajar kalau ada parpol yang mengupayakan dua pasang. Politik memang seni mewujudkan segala hal yang mustahil, untuk meraih kursi kekuasaan.

Hanya saja, SBY menyebut adanya dugaan praktik yang tak adil dan jujur untuk mewujudkan target “dua pasangan” tersebut.

Bagaimana bentuk “tidak adil dan tidak jujur” tersebut? Belum jelas. Kalau dalam tataran political game yang wajar, masih bisa diterima. Atau bagaimana?

Berita Terkait : Menteri Pun Ikut Terusik

Beberapa pihak sudah membantah “prediksi” dan kekhawatiran SBY tersebut. Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto menyebutnya sebagai “kecurigaan yang berlebihan”.

Lima kali pemilu pasca reformasi memang selalu diwarnai kekhawatiran serta tuduhan curang, tidak jujur, tidak adil dan sebagainya.

Karena itu, 2024 mestinya melahirkan pemilu yang lebih berkualitas. Para calon eksekutif dan legislatif yang lebih berbobot. Para pemilih (rakyat) juga demikian. Lebih rasional dan cerdas. Tidak teradu-domba. Jangan mau sekadar menjadi komoditas politik lima tahunan.
 Selanjutnya