Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Yang bukan politisi, rakyat banyak, jangan terlalu terbawa dengan aksi-aksi para politisi. Jangan terlalu baper dengan politik atau politisi. Hari ini Anda memilih mereka, besok suara Anda bisa dibelokkan ke musuhnya. Anda mau bilang apa?
Berapa rakyat yang meninggal, berapa petugas pemilu yang meninggal, pasangan yang bercerai, yang kuburannya digali lagi hanya karena perbedaan pilihan capres, seolah hanya cerita pendek bagi sebagian politisi.
Kalau misalnya, pada Pilpres 2024 Gerindra dan PDIP bersatu lagi dan Prabowo dipasangkan dengan Puan Maharani misalnya, gimana coba?
Baca juga : Menikmati Perbedaan
Bagi politisi, bertemu bahkan berkolaborasi dengan lawan politik, jadi hal biasa. Rakyat yang tidak terbiasa akan terheran-heran dan bertanya: kok bisa? Bukankah program dan platform mereka sangat bertolak belakang? Bukankah kemarin mereka saling menyerang dan saling menelanjangi?
Begitulah. Politik (di Indonesia) memang seperti itu. Filsuf kuno sudah mengingatkan, tak ada kawan abadi dalam politik, yang ada hanya kepentingan abadi. Klasik tapi tetap faktual.
Bahkan, ketika ada yang tampil sangat bersahabat dengan rakyat, memeluk ibu-ibu tua dan menggendong anak kecil, kedekatan itu pun bisa dkhianati. Anda memilih dia, dia bisa memilih yang lain. Dia bisa berselingkuh secara politik. Bersekutu dengan apa yang tidak Anda sukai. Anda mau bilang apa?
Baca juga : PJB Jamin Pasokan Listrik Lebaran
Kalau kemarin ada yang mencintai capres 1 misalnya, capres itu pun bisa berubah. Sebaliknya, kalau ada yang membencinya, dia pun bisa berubah, secara politik. Mencintai dan membenci capres 2 juga demikian.
Pengalaman Pilkada DKI Jakarta, dilanjutkan Pilpres 2019 memberi pelajaran penting bahwa politik sangat cepat berubah.
Bagi rakyat, mencintai atau membenci politisi dan tokoh, sewajarnya saja. Kecuali bagi mereka yang berada di lingkaran dalam. Kecuali mereka yang ideologis. Prinsipil. Mereka bisa membenci atau mencintai seekstrem mungkin. Itu masih wajar.
Bagi rakyat, sewajarnya saja. Yang harus diperjuangkan sepenuh hati adalah dapur di rumah. Uang jajan dan uang sekolah anak, servis kendaraan, tagihan listrik atau pulsa.
Itulah pergulatan sehari-hari rakyat jelata. Kalau politisi ada yang datang berkunjung lima tahun sekali. Sedangkan uang jajan anak ditagih sehari sekali. Tagihan listrik yang terus membengkak, ditagih sebulan sekali. Servis kendaraan, tiga bulan sekali. Uang semesteran sekolah atau kuliah enam bulan sekali.
Rakyat jelata tidak bisa mengkhianati kenyataan itu. Karena, tagihan-tagihan itu selalu “mencintai” rakyat.(*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.