Dark/Light Mode

Harapan Kepada Jenderal Iwan

Minggu, 3 November 2019 04:11 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Permintaan publik sepak bola terhadap PSSI hanya dua. Pertama, roda kompetisi yang lancar dan benar. Kedua, prestasi Timnas. Itu saja.

Seperti kata pemimpin China ketika membangun ekonomi negaranya, “tak peduli kucing hitam atau kucing putih, yang penting bisa menangkap tikus”. Apa pun sistemnya yang penting bisa membawa kemajuan.

Begitu pula di PSSI. Siapa pun ketuanya, dari mana pun basis atau latar belakangnya, apa pun visi misinya, yang penting bisa membawa prestasi dan menjalankan roda kompetisi dengan benar dan lancar. Sederhana saja.

Tapi entah kenapa, mengelola sepak bola tak sesederhana yang dibayangkan dan omongkan. Tak seindah visi dan misi.

Dulu, pada 2015, waktu Indonesia disanksi FIFA dan dikucilkan dari sepakbola internasional, banyak yang berharap, setelah lepas dari sanksi FIFA sepakbola Indonesia akan tampil menggebrak. Hebat lagi. Eh, ternyata begitu-begitu saja. Sanksi keras itu seolah tak berbekas.

Baca juga : Ini Harapan Ketua KPK Buat Kabinet Indonesia Maju

Lalu pada 2016, Pangkostrad Letjen Edy Rahmayadi terpilih menjadi ketua umum PSSI 2016-2020. Harapannya sangat besar melihat potensi yang dimiliki Edy. Ternyata tak juga bisa membawa hasil optimal. Edy kemudian mengundurkan diri.

Kemarin, Mochamad Iriawan, biasa disapa Iwan Bule, terpilih sebagai Ketua Umum PSSI periode 2019-2023. Kemenangannya mutlak: mengantongi 82 suara dari 85 voters.

Ini mandat dan kepercayaan yang luar biasa besarnya. Harapannya sama seperti sebelum-sebelumnya: ada gebrakan hebat. Lalu ada reformasi total. Bahasa politik yang lagi ngetop sekarang: ada perubahan secara radikal.

Eh, di kepengurusan Iwan Bule, ternyata wajah-wajah lama masih muncul. Ini yang sedikit melunturkan optimisme tinggi terhadap kepengurusan Mochamad Iriawan.

Tapi okelah. Kita terima kepengurusan baru ini. Harus didukung. Wajib. Kita tunggu saja gebrakannya.

Baca juga : Kejutan, Tantangan dan Godaan

Gebrakan apa? Misalnya, pengurus PSSI tak boleh lagi merangkap jabatan jadi pengurus atau pembina klub. Supaya tidak ada conflict of interest di kompetisi.

Gebrakan lainnya, bisa membenahi kompetisi dalam negeri yang masih karut marut. Baik itu jadwal, pembinaan suporter, dugaan pengaturan skor, perwasitan, transparansi organisasi dan pembinaan usia dini.

Satu lagi pertanyaan besar, pertanyaan sangat klasik yang harus dijawab kepengurusan baru ini: kenapa di junior prestasinya hebat, lalu ketika naik ke senior, amburadul? KENAPA!!? ADA APA!!?

Prestasi. Memang itu yang ditunggu. Walau pun pengurus mengklaim telah bekerja mati-matian, jungkir balik sampai ngos-ngosan, tapi kalau pretasinya pas-pasan, tetap saja tak dilirik. Puncak dari semua itu ya prestasi Timnas.

Yang terdekat, harapan itu ada di SEA Games, Manila, di bulan November 2019 ini. Harapannya: juara.

Baca juga : Dana Desa Bisa Gairahkan UMKM di Setiap Pedesaan

Menariknya, ketika Indonesia terakhir kali menjadi juara SEA Games 1991 (di Manila), 28 tahun lalu, ketua umumnya dipegang seorang jenderal, Kardono. Manajer Timnya saat itu, juga seorang jenderal, IGK Manila.

Kita berharap, Komisaris Jenderal Mochamad Iriawan bisa mengulang prestasi para seniornya. Juga di Manila. Kita berharap dahaga 28 tahun itu bisa dijawab Komjen Mochamad Iriawan.(*)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.