Dark/Light Mode

Tindakan Berlebihan

Jumat, 20 November 2020 08:11 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Baru pertama dalam sejarah. Hajat pernikahan telah menyebabkan kekacauan jajaran pemerintahan. Geger. Heboh. Penuh dengan ketegangan politik. Sungguh ini merupakan the wedding of the year 2020.

Pernikahan yang menyita perhatian publik. Pernikahan yang memakan korban diberhentikannnya jabatan para pemangku tugas ketertiban dan keamanan di wilayah terjadinya peristiwa pelanggaran protokol Covid-19. Politis.

Baca juga : Membunuh Karakter Lawan Politik

Dua Gubernur digarap. Dimintai pertanggungjawabannya. Ini agak aneh. Kenapa tidak dilokalisir saja ke skala pejabat di skala kota atau kabupaten. Kejauhan dan belebihan rasanya urusan pelanggaran protokol kesehatan menyeret gubernur.

Denda Rp 50 juta kepada Shohibul Hajatan ternyata dinilai tidak oke. Terlalu kecil. Masih dinilai kurang adil mengingat kehebohannya yang berdampak luas menasional.

Baca juga : Berdamai

Sikap over dari Kepolisian ini rasanya pasti ada yang mengatur. Ada perintah terselubung untuk mengganggu nama-nama pejabatan atau tokoh yang sudah masuk radar kandidat Capres 2024. Ini sungguh tidak lucu, berlebihan.

Kita berharap Kepolisian tidak jadi alat politik kekuasaan. Tidak jadi kepanjangan tangan kelompok politik tertentu. Harus netral.

Baca juga : Habib Rizieq Dan Kisah Habaib

Dalam kasus pernikahan putri HRS, mohon aparat berhati-hati mengambil tindakan. Jangan seperti cari muka. Mengingatkan ya tapi tidak lebay.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.