Dewan Pers

Dark/Light Mode

Persaingan Panas

Jumat, 2 Juli 2021 07:05 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Politik itu barang panas. Begitupun hawanya. Sudah nature-nya manusia memiliki syahwat politik untuk berkuasa. Skalanya saja yang berbeda. Dengan ungkapan lain, berpolitik itu bawaan lahir-nya manusia.

Pada perkembangannya, ada yang memutuskan untuk menekan kehendak politiknya, namun tidak sedikit yang melesakkan bawaannya itu lepas kendali. Apa saja di-politisasi-nya. Ia benar-benar terjangkit penyakit politicking. Sesuatu yang sederhana tapi disikapinya, ditafsirinya secara politis.

Berita Terkait : Lockdown Mungkinkah

Dunia politik juga diisi oleh orang-orang yang punya kebiasaan memanas-manasi. Kenyataan ini yang telah mendorong orang-orang adem jadi punya nafsu politik. Inilah model politisi kompor. Seringkali huru-hara politik terjadi karena provokasi para kompor politik ini.

Mereka dengan kemampuan orasinya membakar emosi publik. Mereka dengan kemampuan menulisnya bisa menyulut emosi pembaca. Dalam konotasi positif posisi seperti ini bisa menginspirasi sebuah gerakan aksi sosial yang bisa menggulingkan kekuasaan politik.

Berita Terkait : Kehidupan Tak Jelas Pasca Vaksin

Di zaman now, para kompor ini berkeliaran di mana-mana. Kompor untuk siapa saja yang kebelet nyapres. Di semua level kekuasaan, ada. Dan mereka benar-benar mencari makan dari hasil memanas-manasi situasi agar terjadi persaingan. Dengan demikian mereka bisa mendapat kesempatan mengambil peran dan posisi politik.

Pekerjaan para kompor ini di era sekarang bisa memperluas provokasinya ke ranah publik dengan sosial media. Sudah terasa makanya betapa berisiknya politik kita. Bener-bener gaduh karena sudah semakin tereskalasi oleh kompetisi di kedua kubu paslon Capres-cawapres.

Berita Terkait : Beritakan Kesembuhan Bukan Keterpaparan

Semakin mendekati pesta demokrasi semakin keras terasa benturannya. Sudah ada yang mulai main kayu. Isu-isu sensitif terus dimainkan dengan rekayasa kerja hoaks. Dari kedua belah pihak. Kita berharap para kompor ini segera menyadari kekhilafannya terhadap bangsa ini. Ongkos sosialnya terlalu mahal bila sampai terjadi. Segeralah menahan diri. (*)