Dark/Light Mode

Utang Yang Makin Menumpuk

Jumat, 4 Juni 2021 06:02 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Bangsa ini punya memori yang buruk dengan jumlah utang negara yang menumpuk. Saat itu, ilustrasi yang sering dibuat ialah betapa anak cucu, dari generasi ke generasi bangsa ini harus memikul beban utang luar negeri. Dan sungguh ini bukan sebuah legacy yang baik.

Kacamata awam dalam kehidupan sehari-hari, memiliki utang dalam jumlah besar adalah aib dan perlambang kesengsaraan hidup. Memiliki utang adalah pilihan terpaksa dan menyiksa. Seandainya ada pilihan lain, berutang sejatinya merupakan pilihan paling akhir.

Berita Terkait : Persaingan Panas Menteri Dan Gubernur

Persepsi buruk mengenai kegiatan negara berhutang sampai zaman ini masih belum berubah. Ini karena edukasi tentang hakikat berutang dan implementasi pemanfaatan dana utangan yang tidak termanfaatkan dengan baik dan optimum. Terdapat bangak penyimpangan dalam penggunaan serta pengalokasinya dalam pembangunan.

Kenyataan pahit dari pinjaman ke luar negeri diperburuk dengan selalu adanya dikte dari negara yang bertindak memberi pinjaman. Syarat-syarat peminjaman dibuat sedemikian rupa, agar mendapat memenuhi benefit tambahan dari utang misalnya kontrak karya aset berharga di sumber daya alam milik mereka. Dikte utang dengan Negosisasi ini pernah terjadi di tahun 1998 dan sebagai bangsa kita dibuat menderita.

Berita Terkait : Lockdown, Mungkinkah?

Namun pinjamanan utang dana juga bisa bermakna positif. Negara seperti Amerika adalah hutang dalam jumlah paling besar. Namun negara ini memanfaatkan utangnya baik dan terencana. Pinjaman dialokasikan untuk keperluan membangun infrastruktur untuk percepatan ekonomi melalui kemudahan transformasi serta growth ekonomi.

Kita berharap rasio utang dengan aset negara yang kita punya mampu dimanfaatkan untuk koneksitas wilayah-wilyah terjauh dan tak terjangkau. Sehingga mereka mengakses lebih cepat untuk merangsang kehidupan ekonomi dan juga politik lebih baik. Ini sangat penting.

Berita Terkait : Gercep Basmi Terorisme Papua

Aset milik kita saatnya diproduktifkan untuk greater good. Presidn Jokowi pasti punya rumus paling tidak punya gambaran tentang perekonomian ke depan. Sudah saatnya kita berutang sejatinya untuk percepatan pembangunan utamanya di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota. Utang untuk pertumbuhan dan pemerataan ekonomi nasional untuk kesejahteraan kita semua. (*)