Dark/Light Mode

Perbaiki Komunikasi!

Kamis, 22 Juli 2021 07:00 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Pejabat bisa terpeleset oleh satu atau dua kata. Karenanya, perlu ekstra hati-hati. Harus punya kesabaran lebih tinggi dari rakyat. Selama masa perpanjangan PPKM Darurat, jangan ada yang blunder. Ini saat-saat sensitif.

Contoh, kata “Papua” yang dilontarkan Mensos Risma saat memarahi anak buahnya, mengundang reaksi keras. “Saya nggak bisa pecat orang, tapi saya bisa pindahin ke Papua,” kata Risma, marah, di Bandung.

Berita Terkait : "Ikatan Cinta" Dengan Rakyat

Risma diprotes, karena ucapannya dinilai menggambarkan bahwa Papua adalah tempat pembuangan orang yang tidak becus bekerja. Bawahannya kemudian meralat, “maksud Bu Risma, Papua itu jauh”.

Ada juga Menteri Koordinator yang bilang bahwa sekarang berlaku “darurat militer”. Ucapan ini diralat Menko lainnya, “tidak ada darurat militer”.

Berita Terkait : "Guru Kencing Duduk, Murid…"

Menko yang meralat, juga tak luput dari kritik karena ngetwit kegiatannya menonton sinetron “Ikatan Cinta” saat PPKM Darurat.

Mengenai perpanjangan PPKM Darurat, pendapat para menteri juga sempat membingungkan. Ada yang bilang enam minggu, ada yang dua minggu. Menko Luhut kemudian meralat, “belum diputuskan”. Keputusan akhirnya: diperpanjang sampai 25 Juli 2021.

Berita Terkait : Kenapa Dr Lois?

Luhut juga dikritik karena mengklaim penanganan Covid-19 “terkendali”. Besoknya, dia mengatakan varian Delta tidak bisa dikendalikan. Dia juga minta maaf.
 Selanjutnya