Dark/Light Mode

Perbaiki Komunikasi!

Kamis, 22 Juli 2021 07:00 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

 Sebelumnya 
Ada pula pejabat Istana atau jubir yang terlalu “ngegas”, dan justru mengundang antipati. Komisaris BUMN, juga bikin gaduh dengan kata-kata kasar, walau akhirnya meminta maaf.

Selain minta maaf, ada juga yang “minta dukungan”. Ketika beberapa menteri berjuang keras dan berjibaku di lapangan, ada juga yang diduga sedang membuka jalan untuk Pilpres 2024. Baliho dan fotonya dimana-mana.

Dalam kondisi darurat dan krisis saja sudah begini, bagaimana nanti ketika krisis ini sudah berlalu? (entah kapan). Bisa lebih “liar” lagi manuver-manuvernya. Ini mesti di antisipasi. Jangan sampai menimbulkan antipati rakyat yang memang sudah Lelah dan menderita akibat Covid.

Berita Terkait : Obat, Jangan Nunggu Ponari

Sebenarnya, Presiden sudah sering mengingatkan para pembantunya. Selama pandemi ini saja, sudah lebih dari tiga kali presiden memberi warning.

Presiden pernah marah soal serapan anggaran yang rendah, soal pejabat yang tidak punya perasaan, atau pejabat yang lamban. Presiden bahkan pernah mengancam akan mengeluarkan Perppu atau reshuffle.

Terakhir, saat memimpin Rapat Terbatas “Evaluasi PPKM Darurat” secara daring, Jumat (16/7), Presiden kembali mengingatkan para menterinya.

Berita Terkait : "Ikatan Cinta" Dengan Rakyat

“Jangan sampai di antara kita ini tidak sensitif… Jangan sampai masyarakat frustrasi karena kesalahan kita dalam berkomunikasi,” kata Presiden.

Seusai rapat, Sekretaris Kabinet Pramono Anung memberikan komentar. Dia mewakili Presiden. Hanya tampil 1 menit 51 detik di akun YouTube Sekretariat Presiden, Pramono tampak lebih lugas, meyakinkan, takarannya pas, dan adem. Tidak terkesan ngajak berantem. Tidak menggunakan kata-kata kasar atau marah-marah.

Kenapa Pramono Anung jarang tampil? Kenapa gaya “adem, tenang, dengan takaran yang pas”, mulai memudar?

Berita Terkait : "Guru Kencing Duduk, Murid…"

Di masa sensitif ini, jangan sampai terpeleset hanya karena satu-dua kata, atau karena emosi tak terkendali.(*)