Dark/Light Mode

Nyanyian Azis, Menunggu Dewas

Kamis, 7 Oktober 2021 07:06 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

 Sebelumnya 
Dalam persidangan sebelumnya, Robin, eks penyidik KPK yang menjadi tersangka, juga memunculkan kalimat “karena di atas lagi pada butuh”. Kalimat itu disampaikannya saat menagih sisa uang ke “kliennya”.

Siapa mereka atau siapa dia? Publik menunggu “nyanyian” Azis. Supaya Azis mau “bernyanyi”, dia bisa ditawari menjadi justice collaborator. Tentunya dengan imbalan menarik terkait hukumannya.

Dewan Pengawas KPK juga menjadi faktor penentu. Ini “isu” sangat serius. Tidak remeh temeh. Isu “pagar makan tanaman” adalah salah satu puncak kegagalan sebuah lembaga hukum. Pengusutan tuntas oleh Dewas KPK bisa melepaskan KPK dari beban berat. Juga untuk membersihkan KPK.

Baca juga : "Mengutuk Ingatan"

Kalau tidak, ini akan “digoreng” terus. Bisa menyandera KPK. Bisa menggerus kepercayaan publik terhadap KPK.

Novel Baswedan mengaku sudah melaporkan “delapan orang Azis” ini ke Dewas. Tapi Dewas mengaku belum. Siapa yang benar?

Masalahnya bukan “belum dilaporkan atau sudah dilaporkan,” tapi ada kemauan atau tidak. Kita yakin Dewas mau dan akan berjuang keras untuk mengungkap benar-tidaknya “delapan orang Azis ini”.

Baca juga : Komunis Dan Korupsi

Dewas harus segera bersidang. Panggil Novel Baswedan yang mengaku tahu siapa delapan orang itu. Ungkap sejelas-jelasnya secara obyektif.

Kalau tidak, atau kalau diulur-ulur, KPK akan menyimpan potensi masalah. Semacam bom waktu. KPK akan terus dibayangi ketidakpercayaan publik. Citranya bisa kian tergerus.

Kita menunggu Azis. Juga menunggu Dewan Pengawas KPK. Bukan menunggu Godot. (*)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.