Sebelumnya
Biaya kremasi normal untuk “kelas ekonomi” dipatok Rumah Abu sekitar Rp 10 juta. Di era Covid-19 ini, biaya itu lompat tidak karuan. Karena antrean yang panjang, maka terjadi tawar-menawar. Kenaikan biaya bisa dilakukan resmi oleh Pengurus Krematorium, tapi lebih sering oleh oknum-oknum yang berkeliaran di sana yang mungkin kerja sama dengan pengurus krematorium. Mereka inilah yang mematok biaya gila-gilaan: bisa sampai Rp 100 juta. Taktiknya, keluarga duka seperti digertak: mau tidak Bu. Kalau enggak mau, enggak apa, kami kasih ke keluarga lain yang sudah antre di luar.
Seorang kawan di Jakarta bercerita, kawannya tertimpa musibah, meninggal karena Covid. Mereka cari Rumah Abu untuk dikremasi. Biayanya Rp 24 juta. Pengurus krematorium mengakui biasanya tidak lebih 10 juta, saat ini sekitar 24 juta karena permintaan yang tajam. Saat ini, jika orang menelpon kantor krematorium, biasanya tidak diangkat. Kalau diangkat, terjadilah nego soal biaya. Sebagian dari mereka berkilah untuk Jakarta sudah penuh, tapi mereka siap mencarikan kremasi di kota lain seperti Cirebon, Bogor atau Karawang. Biayanya Rp 45 juta, bahkan ada yang sampai Rp 85 juta. Betul-betul pemerasan terhadap keluarga yang sedang ditimpa kemalangan.
Baca juga : Peran Pupuk Melawan Rezim Impor Beras
Beberapa hari yang lalu, viral gambar sejumlah warga membakar mayat keluarganya secara manual di belakang rumah karena tidak mampu membayar kremasi jenazah ke krematorium. Mengenaskan sekali pemandangannya!
Gubernur Anies Baswedan mestinya memerintahkan stafnya untuk menindak dan menghukum keras pelaku “mafia kremasi jenazah”. Perilaku mereka sungguh tidak manusiawi bahkan bisa dicap KEJI: mencari keuntungan di tengah-tengah mayat.
Baca juga : Pinangki, Putusan Hukum Yang Mencoreng Wajah Hukum Indonesia
Pandemi Covid-19 memang membuat bangsa kita kesusahan dari sudut manapun. Di tengah pandemi yang kian ganas, kita disuruh mengambil putusan mana yang harus dikedepankan: ekonomi atau nyawa. Jika PPKM Darurat diperpanjang lagi, perekonomian nasional niscara makin buruk; pengangguran makin banyak, kemiskinan pun terus meningkat, kriminalitas makin tinggi. Sebaliknya, jika “rem tangan” dikendorkan, makin banyak nyawa yang akan bergelimangan, karena orang kita susah sekali disuruh berdisiplin. Maka, setelah 2 minggu melaksanakan PPKM Darurat, Luhut Panjaitan – Komandan PPKM Darurat—mengakui hasilnya belum optimal. Sebetulnya, hasil PPKM Darurat selama 2 minggu tidak bisa dikatakan berhasil. Angka Corona masih terus merayap ke atas; sejumlah ahli epidemiolog memperingatkan agar kita siap-siap situasi pandemi ke depan yang tetap mengerikan. Itulah sebabnya, Pemerintah Jepang, Vietnam, Arab Saudi dan Inggris memperingatkan warganya yang tinggal di Jakarta untuk siap-siap hengkang, balik ke negara masing-masing.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.