Sebelumnya
Kedua, terjadi sentralisasi dan birokrasi yang semakin rumit di BRIN. Kondisi kerapatan antarperiset, bahan, peralatan, anggaran dan operator yang harusnya bergerak dalam satu komando, justru kondisinya terdisrupsi dan terintegrasi. Hal ini menjadi problem bagi BRIN dalam mengejar kinerja yang cepat, efektif dan responsif dan berbasis pada bukti yang baik.
“Sampai saat ini (BRIN) masih dalam proses forming dan storming, entah sampai kapan kita keluar dari ini, kapan kita norming dan performing. Padahal banyak masalah bangsa yang harus kita selesaikan segera,” ujarnya.
Baca juga : Gus Muhaimin Yakin Indonesia Mandiri Protein dan Karbohidrat
Ketiga, BRIN berjalan dengan skema program tanpa visi, misi dan arah yang jelas. Ini disebabkan pimpinan BRIN lebih fokus kepada basis riset, bukan kepada agenda riil inovasi.
Ironisnya, pimpinan BRIN lebih mendorong para periset, peneliti dan perekayasa BRIN untuk membuat paper sebagai indikator kinerja. Ini pula yang terjadi kepada para peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Baca juga : Kemenkumham Terima Permohonan Naturalisasi Atlet Sepak Bola
“Peneliti mendapat royalti kalau BPPT berhasil menjual prototype-nya ke industri. Saya cek lembaga riset di luar negeri, terutama China dan Rusia, kok kita semrawut tidak jelas,” ujarnya.
Keempat, penghentian, penggantungan program strategis nasional yang diampu ex lembaga pemerintahnya non kementerian. Ini menyebabkan hasil penelitian seperti early warning dalam musibah tsunami menjadi tidak jelas.
Baca juga : Pak Anies, Ayo Permak Direksi Transjakarta...!
Terakhir, pelemahan visi dan penyelenggaraan pemajuan iptek. “Ini betul-betul kontradiktif,” tambah dia. [KAL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.