Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Harga Beras Masih Di Atas Harga Eceran Tertinggi Nih

Firman Soebagyo: Anomali Cuaca Berdampak Serius

Jumat, 16 Februari 2024 07:40 WIB
Firman Soebagyo, Anggota Komisi IV DPR. Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id
Firman Soebagyo, Anggota Komisi IV DPR. Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id

RM.id  Rakyat Merdeka - Mendekati Ramadhan, harga beras  mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Padahal, Pemerintah sudah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) sejak Maret 2023.

Pada Selasa (13/2/2024), harga beras premium jadi Rp 15.800 per kilogram (kg), dan beras medium Rp 13.890 per kg. Sepekan sebelumnya, pada 6 Februari 2024, harga beras premium tercatat masih Rp 15.540 per kg dan beras medium Rp 13.630 per kg. 

Berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 7 Tahun 2023, Pemerintah menetapkan HET beras medium berkisar Rp 10.900-Rp 11.800 per kg. Beras premium Rp 13.900-14.800 per kg, tergantung zona masing-masing.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, harga pangan dunia yang berfluktuasi, jadi salah satu penyebab harga beras terus naik.

Baca juga : AMIN Belum Lempar Handuk

"Fluktuasi harga pangan, juga ditentukan oleh musim tanam dan musim panen," katanya, saat meninjau ketersediaan beras bersama Direktur Utama Bulog, Bayu Krisnamurthi di Ramayana Klender, Jakarta Timur, Senin (12/2/2024).

Sekjen Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi Sarijowan membeberkan, apa penyebab utama lonjakan harga beras yang kini pecah rekor dan makin menjauhi HET.

"Kami mendapat laporan, harga beras medium terkerek di Rp 13.500 per kg. Beras premium sudah menyentuh Rp 18.500 per kg," tandasnya.

Persoalan harga beras yang tak kunjung menyentuh HET ini, menurut Reynaldi, akibat Pemerintah tidak serius dalam mengelola perberasan sejak musim tanam tahun 2022 hingga kini. "Sehingga, produktivitas beras kita, datanya simpang siur," tandasnya.

Baca juga : Jokowi Siap Keluarkan Jurus-jurus Ini Nih...

Untuk itu, ia mendorong agar ada sinkronisasi data, antara beras yang disebarkan untuk bansos dan untuk pedagang di pasar. "Itu penting untuk keberlangsungan pasar, agar harga di pasar tidak tinggi," ucapnya.

Dia pun meminta Pemerintah berhati-hati dengan lonjakan harga dan kelangkaan beras di pasar tradisional. "Saat musim Pemilu, banyak beras yang diambil di luar pasar tradisional atau produsen besar. Ini yang harus dijaga oleh Pemerintah untuk ke depan," kata Reynaldi. 

Anggota Komisi IV DPR, Firman Soebagyo mengatakan, naiknya harga beras karena terjadi anomali cuaca. "Anomali cuaca ini berdampak serius terhadap ketahanan pangan nasional, karena ketika El Nino terjadi, banyak yang gagal panen," ucapnya.

Berbeda, Ketua Umum Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI), Ali Mahsun Atmo menduga, faktor utama bukan karena cuaca. Tapi, karena musim Pemilu yang baru berlalu. "Faktor utamanya adalah aturan Pemilu yang membolehkan tebus murah sembako bagi para kontestan," duganya.

Baca juga : Ketua KPU Akui Sirekap Bermasalah

Untuk lebih jelasnya, berikut wawancara dengan Firman Soebagyo soal naiknya harga beras.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.