Dark/Light Mode

Mochtar Mohammad, Direktur Pro Mega Center

2024 Ada Potensi Cuma Satu Pasang, Mega-Pro

Sabtu, 12 Juni 2021 10:54 WIB
Direktur Pro Mega Center, Mochtar Mohammad
Direktur Pro Mega Center, Mochtar Mohammad

RM.id  Rakyat Merdeka - Berbagai nama terus bermunculan dalam wacana Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Beberapa nama mulai dijodoh-jodohkan usai agenda pertemuan antar tokoh. 

Bahkan, ada pasangan lama yang dimunculkan kembali oleh pendukungnya. Yakni, Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto (MegaPro). Mereka berpasangan dalam Pilpres 2009. Tapi, apakah Mega-Prabowo mampu mengalahkan nama-nama beken yang sudah menempati posisi teratas dalam berbagai survei? Berikut wawancara Rakyat Merdeka dengan Direktur Pro Mega Center, Mochtar Mohammad.

Apa alasan Anda menginginkan duet Megawati-Prabowo terulang kembali? 

Pertama, konsolidasi PDIP semakin rapih. Tingkat kabupaten sudah rapih 100 persen, tingkat kecamatan sudah 100 persen, tingkat ranting sudah 100 persen, dan tingkat RW atau dusun sudah 60 persen. Targetnya, tahun ini sudah selesai. Artinya, organ atau pasukan itu lebih siap dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. 

Kedua, Ibu Megawati itu sentral figur. Apapun dilakukan kader kalau Megawati yang menginstruksikan. Kader tidak perlu disuruh membiayai, namun saya yakin mereka mau kerja sama, mau gotong royong. Militansi kader sangat kuat.

Apakah ada faktor lainnya? 

Berita Terkait : Direktur Dian Perdana Medika Bantah Berita Galon Guna Ulang Bahaya

Hal lainnya, saat ini PDIP sangat disiplin. Jika ada kesalahan sedikit, langsung dipecat. Ditambah lagi kondisi politik saat ini, boleh dibilang PDIP adalah partai pemerintah, dan apa-apa Presiden itu koordinasi dengan Ibu Mega. 

Artinya, Pak Jokowi bisa berdiskusi dengan Bu Mega untuk mengkonsolidasikan, menggalang koalisi besar. Kalau koalisi pemerintah terjaga, mungkin ini mengarah satu pasang. Apalagi, ruang untuk koalisi dengan PKS masuk ke pemerintahan, bisa dibuka.

Kenapa PKS perlu masuk koalisi? 

Saat ini tinggal PKS doang (di luar pemerintahan). Lagi pula, Presiden PKS Pak Ahmad Syaikhu pernah jadi wakil tanding saya di Pilkada Kota Bekasi. Namun kami berteman, dia orang moderat. PKS saat ini adalah PKS moderat.

Kenapa harus Megawati yang diusung dari PDIP? 

Saya mendukung Megawati karena posisinya sebagai king maker. Percaya atau tidak, terserah. Semua partai sowan ke Megawati. Logikanya, kalau Mega maju, ada yang berani melawan nggak. 
Saya sebagai politisi, ini sederhana, bisa konsensus. Bisa musyawarah mufakat. Bung Karno mengajarkan kita memiliki demokrasi, musyawarah mufakat, tidak seperti di luar negeri. Roh kita musyawarah mufakat, gotong royong. 

Berita Terkait : Majalengka Potensi Menjadi Sentra Bawang Putih

Kalau dibicarakan di Teuku Umar, bisa ini, ketimbang harus ada pertandingan yang buangbuang duit. Duit itu bisa digunakan untuk rakyat. Ngapain buang-buang duit untuk demokrasi, padahal itu hanya proses. Tujuannya adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Semua masuk koalisi? 

Iya, peran ini bisa diambil Megawati dan Jokowi. Keduanya adalah King Maker. 

Demokrat juga diajak? 

Saya kira, Ibu Mega akan menerima Pak SBY untuk berkomunikasi. Kenapa tidak. Kalau ini dilakukan. Bu Mega dan Pak Jokowi, masukkan Ahmad Syaikhu dan AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) ke kabinet, selesai pertandingan. Pertanyaannya adalah siapa lawannya lagi? 

Nggak ada lagi. Maksud saya adalah, menyatukan republik yang terlalu mahal dalam berdemokrasi ini. Keinginan saya seperti itu. Ngapain kita buang duit triliunan hanya untuk mencari presiden. Mendingan uangnya untuk rakyat. Lebih baik konsensus saja. Maka, yang diperlukan adalah political will antara elit politik saja. 

Berita Terkait : Kumpul Disatu Forum, Direktur Keuangan Jangan Cuma Jadi Penonton

Dalam beberapa survei capres, banyak nama yang berada di papan atas. Bagaimana itu? 

Siapa pendatang barunya, Ganjar Pranowo? Ganjar itu anak buahnya Mega. Bisa diminta menjadi menteri dalam negeri saja. Terus siapa lagi? Anies Baswedan? Ini pilpres, bukan pilkada. 

Pilpres butuh partai, tidak bisa independen. Ridwan Kamil? Partai mana yang mau mengusungnya. Kalau pilkada, mungkin ada yang mau, tapi beda dengan pilpres. 

Bagaimana jika Prabowo masih berambisi sebagai capres? 

Itu gampang. perjanjian Batu Tulis saja dilanjutkan. Sekarang Mega dulu. Nanti, Prabowo juga sampai jadi Presiden setelah Bu Mega. Kemudian, baru Mbak Puan. Sederhana, ini tinggal kompromi saja. 

Apabila Pak Prabowo jumawa mau maju, tapi semua partai dikandangin (berkoalisi dengan PDIP), lalu dia tetap mau maju juga, orang lebih memilih yang pasti dari pada mengeluarkan triliunan namun nggak jadi. Dalam pandangan saya, Pak Prabowo mau jadi wapres dulu. Beliau juga masih sehat, Insya Allah umur panjang. [NNM]