Dark/Light Mode

M. Nuh Bicara Pers Dan Pandemi

Medsos Itu Cepat, Tapi Kesahihannya Rendah

Selasa, 9 Februari 2021 06:40 WIB
Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh. (Foto: Istimewa)
Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pandemi Corona telah membuat industri media mainstream megap-megap. Banyak yang terpaksa gulung tikar. Ada juga yang tetap bertahan dengan berdiri tegap. Ada juga yang pincang-pincang. Di sisi lain, media mainstream juga harus berhadapan dengan menjamurnya medsos yang tak karu-karuan juntrungannya.

Media mainstream harus tetap hidup. Harus tahan banting. Apapun caranya. Asalkan tak melanggar etika dan hukum.

Lalu, bagaimana media mainstream bisa tetap bertahan secara bisnis dan tetap menjalankan idealismenya sebagai agen perjuangan, di tengah pandemi dan gempuran medsos? Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh memberikan analisis dan “jamunya”.

Menurut Pak Nuh, media mainstream masih sangat dibutuhkan masyarakat. Sebab, medsos tidak bisa menggantikan media mainstream. “Medsos memang cepat, tapi kesahihannya rendah,” kata mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, juga mantan Menteri Pendidikan Nasional ini, kepada Rakyat Merdeka, kemarin. Berikut penuturan Pak Nuh selengkapnya:

Media mainstream (selanjutnya disebut media) harus tetap bertahan, caranya gimana Pak?

Jawaban mendasar itu, industri media harus auto survive. Yaitu, kita bisa bertahan menghadapi gempuran pandemi ini.

Berita Terkait : Bu Risma, Nyerah?

Selain itu?

Berpikirnya tidak cukup hanya bisa auto survive, juga harus berpikir bagaimana untuk recovery. Sebab, selama survive itu, pasti ada lubang-lubang. Ada yang bisa dilaksanakan, tapi ada juga yang tidak bisa dilaksanakan. Mestinya untung, tapi ada sebagian yang rugi. Makanya, kita pikirkan recovery.

Selanjutnya, masih ada Pak?

Auto survive dan recovery belum cukup. Kita juga harus pikirkan yang ketiga, yaitu melompat ke tahapan berikutnya lagi. Jadi, tiga itu yang harus disiapkan oleh kawan-kawan di industri media.

Perlukah transformasi digital?

Pertama, mau tidak mau harus melakukan transformasi digital. Sebab, sekarang memang era digital. Kalau tidak, akan tertinggal. Kedua, inovasi tiada henti. Ini dari sisi industrinya.

Berita Terkait : CIMB Niaga Terbitkan Panduan Pembiayaan Kebun Kelapa Sawit

Kalau dari sisi kualitas insan pers sendiri, seperti apa?

Wartawan harus selalu tampil aktif, terutama terkait dengan digital kompeten. Dimulai dari literasi. Dia harus paham dan dia juga harus punya potensi digital. Sehingga memahami proses kerja era digital dan kompetensinya juga berbasis digital.

Transformasi digital mengalami momentumnya saat pandemi ini, apa betul Pak?

Oh iya. Pandemi ini menjadi pemaksa. Sebenarnya, sejak kita masuk era digital, harusnya langsung transformasi. Dengan adanya pandemi, kita lebih dipaksa. Kalau tidak, kita akan diserang pandemi dan ekosistem. Kan gitu. Makanya, kalau kita sudah lompat dengan bertransformasi, paling tidak ekosistemnya sudah didapat. Tinggal beresin pandeminya.

Jadi, perubahan itu jangan tergantung karena pandemi ya Pak?

Kita harus berubah. Mau nggak mau. Sebab, sinyal perubahan itu sudah 20 tahun lalu, pada saat ramai-ramainya teknologi digital. Yang semua juga paham teknologi digital itu sebagai purpose of technology (tujuan teknologi). Semua bidang membutuhkannya, namun kita tampaknya agak enggan untuk berubah.

Berita Terkait : BUMN Buru Dana Lewat Surat Utang

Jadi, apa yang harus dilakukan sekarang Pak?

Membangun kekuatan ke-kita-an. Meskipun Covid-19 adalah sektor kesehatan, tapi yang terkena dampaknya seluruh dimensi. Dari situlah, saya tidak ada artinya. Apa yang saya miliki tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang saya tidak miliki. Apa yang aku ketahui, tidak ada apa-apa dengan yang aku tidak ketahui. Tetapi, kekuatan itu ada di kita.

Ke-kita-an itu harus terus dibangun pada saat-saat seperti ini. Karena menghadapi persoalan besar seperti sekarang, ya empati. Alhamdulillah, kawan-kawan pers telah mampu menggelorakan optimisme itu dan menumbuhkan empati publik luar biasa.
 Selanjutnya