Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Raup Laba Rp 10,89 T, BNI Raih Pertumbuhan 3 Kali Lipat
Rabu, 26 Januari 2022 11:50 WIB
Sebelumnya
Ia melanjutkan, pendorong utama kredit selama 2021 adalah penyaluran di sektor Business Banking terutama pembiayaan ke segmen Korporasi Swasta yang tumbuh 7,6 persen yoy menjadi Rp 180,4 triliun, segmen Large Commercial yang tumbuh 10,4 persen yoy menjadi Rp 40,9 triliun. Kemudian segmen kecil juga tumbuh 12,9 persen yoy dengan nilai kredit Rp 95,8 triliun.
Secara keseluruhan kredit di sektor Business Banking ini tumbuh 4,5 persen yoy menjadi Rp 482,4 triliun. Sementara di sektor Consumer, kredit terbesar yang tumbuh adalah kredit payroll, yaitu naik 18,3 persen yoy menjadi Rp 35,8 triliun.
Baca juga : Malam Ini, Jalan Reguler I Gusti Ngurah Rai Kembali Dibuka
Dan di sektor kredit kepemilikan rumah (mortgage) tumbuh 7,7 persen yoy menjadi Rp 49,6 triliun. Secara keseluruhan kredit consumer tumbuh 10,1 persen yoy menjadi Rp 99 triliun.
Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini menambahkan, peran pendapatan non bunga juga tergolong semakin kuat pada pencapaian 2021. FBI pada akhir tahun 2021 tumbuh 12,8 persen yoy menjadi sebesar Rp 13,64 triliun.
Baca juga : Rogoh Kocek Rp 57 T, Lotte Bangun Pabrik Petrokimia Di Indonesia
"FBI tahun 2021 didukung oleh Fee Consumer dan Fee Business Banking yang masing-masing tumbuh 6 persen dan 10,7 persen yoy, sehingga menandai pemulihan yang kuat dibandingkan tahun sebelumnya," jelas Novita.
Pertumbuhan kredit ditopang oleh Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp 729,17 triliun atau tumbuh 15,5 persen yoy, dan membawa BNI pada situasi likuiditas yang sangat mencukupi dan jauh melampaui pertumbuhan kredit tahun lalu.
Baca juga : Wow! RI Butuh Rp 300 T Untuk Tangani Perubahan Iklim
Penghimpunan DPK ini menguat di kuartal IV-2021, meskipun suku bunga simpanan terus menurun. Bekal DPK tersebut membuat BNI memiliki cadangan likuiditas yang tangguh dan siap digunakan jika permintaan kredit meningkat atau pasar obligasi berubah menjadi lebih baik pada 2022.
Dana murah atau CASA BNI juga masih mendominasi DPK, yaitu terjaga pada level 69,4 persen dari seluruh DPK. CASA terdongkrak hingga 17,1 persen yoy menjadi Rp 506,06 triliun. Pertumbuhan dana murah ini mendorong perbaikan Cost of Fund dari 2,6 persen pada akhir 2020 menjadi 1,6 persen di 2021. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya