Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
APBN Surplus 28 Triliun
Pengumuman...Pengumuman... Dompet Negara Lagi Tebel Nih
Kamis, 24 Februari 2022 08:51 WIB
Sebelumnya
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menganalisa, ada tiga faktor yang membuat APBN di Januari mengalami surplus. Pertama, booming harga komoditas membuat penerimaan negara, baik PNBP maupun pajak, naik signifikan. Kedua, anggaran stimulus Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dipangkas, dari sekitar Rp 700 triliun menjadi sekitar Rp 400 triliun. Ketiga, kecenderungan pengadaan barang dan jasa masih rendah di awal tahun. Realisasinya di akhir tahun.
"Sehingga, serapan anggaran pemerintah pun juga masih rendah di awal tahun. Jadi, tiga faktor itu yang membuat kenapa APBN bisa surplus," terang Bhima.
Baca juga : Tommy Nyengir Aja Nih
Namun, dia mengingatkan, perlu juga diperhatikan bahwa surplus APBN yang bergantung pada komoditas berisiko lonjakan inflasi. Sehingga, subsidi pangan maupun energi seharusnya ditambah. Jaminan atau belanja sosial juga harus ditambah karena tekanan ekonominya lebih kompleks dan cukup berat tahun ini.
"Jangan sampai APBN aman sendiri. Sementara sisi belanja pemerintah cukup rendah, belum nendang," pesan Bhima.
Baca juga : Sri Mulyani Putar Otak Cari Tambalan
Ketergantungan terhadap komoditas juga sifatnya temporer. Sebab itu, Pemerintah tak boleh terlena dengan kenaikan harga minyak yang membuat harga komoditas seperti sawit dan batubara melambung tinggi. Jika dibiarkan, Indonesia bisa masuk jebakan.
"Dutch disease atau penyakit Belanda. Adapun saat komoditas sedang booming, kita lupa mengembangkan stimulus atau intensif untuk industri manufaktur. Akibatnya, kualitas penerimaan pajak ke depannya, pasca komoditas sudah mulai normal, akan mengalami penurunan," pungkas Bhima. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya