Dewan Pers

Dark/Light Mode

QNET-AP2LI Kompak Tingkatkan Teknologi Untuk Perkembangan Bisnis Direct Selling

Jumat, 5 Agustus 2022 20:25 WIB
Ketua Umum AP2LI Andrew Susanto (kiri) bersama General Manager QNET Indonesia Ganang Rindarko (Foto: Istimewa)
Ketua Umum AP2LI Andrew Susanto (kiri) bersama General Manager QNET Indonesia Ganang Rindarko (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Direct selling atau dikenal di masyarakat dengan istilah MLM (multi level marketing) merupakan metode penjualan yang sudah sangat lama dilakukan dengan konsep menjual produk langsung kepada konsumen. Di tengah kemajuan zaman, industri ini berbenah dengan meningkatkan teknologi.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penjualan Langsung Indonesia (AP2LI) Andrew Susanto menegaskan, tidak ada yang bisa membendung perkembangan teknologi. Yang bisa dilakukan adalah secepat mungkin harus memanfaatkan teknologi. Siapa yang cepat beradaptasi dengan teknologi, dialah yang akan menjadi pemenang.

“Itu berlaku di bisnis direct selling. AP2LI sangat menyadari bahwa bisnis penjualan langsung harus peka terhadap teknologi. Pesatnya perkembangan teknologi harus diiringi cepatnya komunikasi pemasaran para anggota bisnis penjualan langsung,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima RM.id, Jumat (5/8).

Berita Terkait : DTI-CX Ajak Perusahaan Teknologi Kebut Transformasi Digital Indonesia

Andrew menambahkan, AP2LI adalah asosiasi tempat berhimpunnya perusahaan yang bergerak di bidang industri penjualan langsung (direct selling) dan penjualan berjenjang (multi level marketing) di Indonesia. AP2LI adalah sarana perjuangan dari dunia usaha penjualan langsung untuk merealisasikan hubungan industrial yang sehat, kondusif, positif dan harmonis. Juga menjadi sarana untuk menyalurkan aspirasi, gagasan, pandangan, dan harapan masyarakat industri penjualan langsung ke Pemerintah agar industri ini senantiasa dapat memberikan sumbangsih nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Andrew, AP2LI terus memompa semangat para anggota untuk dapat beradaptasi cepat dalam membangun dan menjalankan bisnis penjualan langsung. Hasilnya adalah industri penjualan langsung mampu beradaptasi sangat cepat terhadap kondisi iklim dunia usaha.

“Dengan keahlian dalam membangun jaringan, kualitas produk dan yang pasti didukung teknologi, kami bisa mengalahkan pandemi. Terbukti kami masih berdiri tegak. Tercatat dalam dua tahun terakhir, pada masa pandemi, mitra usaha bisnis penjualan langsung mampu meningkat sekitar 15 persen dan saya perkirakan akan meningkat di 2022 sebesar 20 persen,” kata Andrew, optimis.

Berita Terkait : Berkat Lazada, Toko Kahasil Sukses Kembangkan Bisnis

Dia melanjutkan, AP2LI ingin selalu aktif mengedukasi masyarakat bahwa penjualan langsung bukan money game, bukan perusahan investasi, tetapi bisnis jaringan yang mengutamakan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Kerja keras membangun jaringan dan memasarkan produk. Kerja cerdas bagaimana melakukan presentasi dengan memanfaatkan teknologi agar masyarakat tertarik membeli produk. Kerja ikhlas menerima hasil. “Yang juga penting, jangan mudah terbuai dengan penawaran muluk yang menjanjikan hasil pasti berupa keuntungan besar tanpa perlu melakukan kerja apa pun," tegas Andrew.

Hal senada diutarakan Ganang Rindarko, General Manager QNET Indonesia, salah satu anggota AP2LI. Ganang mengatakan, pesatnya perkembangan teknologi masa kini telah membawa dunia masuk pada era globalisasi dan liberalisasi perdagangan. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam perkembangan industri penjualan langsung, yang globalisasi dan liberalisasi perdagangan telah membawa dampak positif maupun negatif bagi industri penjualan langsung.

“QNET telah membangun bisnis penjualan langsung selama lebih dari 23 tahun. Kami sudah sangat mengerti bagaimana iklim penjualan langsung di Indonesia. Kami sangat mendukung langkah AP2LI untuk mengembangkan bisnis penjualan langsung dengan mengedepankan teknologi sebagai media untuk meningkatkan penjualan serta mendukung upaya AP2LI memajukan industri penjualan langsung di Indonesia,” tutup Ganang.■