Dewan Pers

Dark/Light Mode

Komit Jalankan Konservasi Terumbu

PKT Raih Penghargaan AREA 2022 Kategori Social Empowerment

Jumat, 5 Agustus 2022 20:19 WIB
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) meraih penghargaan Asia Responsible Enterprise Awards (AREA) 2022 kategori Social Empowerment, karena menjalankan program Konservasi Terumbu Karang oleh Kelompok Nelayan Kimasea. Penghargaan tersebut diterima secara virtual, pada 21 Juli 2022.

Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi mengatakan, pihaknya telah menjalankan konservasi terumbu karang di perairan Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) sejak 2009, dengan komitmen penurunan 500 unit media terumbu buatan setiap tahun.

Ia menuturkan, program ini direalisasikan di perairan Tobok Batang Kota Bontang, dengan luasan mencapai 20 hektare (Ha) dikarenakan kondisi terumbu karang mengalami kerusakan.

Hal ini diakibatkan penangkapan ikan tidak ramah lingkungan (PITRaL) yang bersifat destruktif, seperti penggunaan bahan peledak maupun bahan kimia beracun.

Berdasarkan data Pemerintah, dari 5.464 Ha luas wilayah terumbu karang di perairan Bontang, 2.500 Ha di antaranya dalam keadaan rusak.

"Kondisi inilah yang menjadi keprihatinan PKT untuk turut berperan dalam merehabilitasi terumbu karang di perairan Bontang," ujarnya, melalui siaran pers, Jumat (5/8).

Kesinambungan langkah konservasi terumbu pun diikuti pembinaan dan pelibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem perairan, melalui pembentukan kelompok nelayan Kimasea pada 2017.

 

Berita Terkait : Bahlil Percepat Pengembangan Investasi Hijau Berkelanjutan

Menurutnya, kelompok ini awalnya beranggotakan 10 nelayan pesisir di sekitar perusahaan dari Kelurahan Loktuan Bontang Utara, Kota Bontang.

Rahhmad menjelaskan, pembinaan ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran nelayan dalam menjaga ekosistem perairan, dengan mendorong aksi nyata penyelamatan ekosistem perairan tanpa ada lagi aktivitas destruktif dalam penangkapan ikan.

Hal ini dinilai penting, sebab program konservasi tidak akan tercapai sesuai sasaran, jika kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem perairan, tidak turut dibentuk.

"Di awal pembinaan, kelompok Kimasea dibekali edukasi akan pentingnya menjaga ekosistem perairan dan penangkapan ikan dengan ramah lingkungan," ujar Rahmad.

Selanjutnya, diikuti pelatihan dan pemberdayaan seperti pembuatan media terumbu hingga monitoring perkembangan area konservasi secara berkala.

Selain itu, dilakukan penguatan kapasitas anggota kelompok Kimasea seperti kemampuan teknik transplantasi terumbu hingga pelatihan dan sertifikasi menyelam untuk mendukung aktivitas monitoring kawasan konservasi.

Setelah lima tahun pembinaan, kata dia, kelompok Kimasea mampu mendirikan usaha pembuatan media terumbu karang berbagai model, dengan total 14 anggota.

Berita Terkait : Gelar Lomba Gambar Virtual Dengan Peserta Terbanyak, Frisian Flag Raih Penghargaan MURI

"Kini, mereka tidak hanya melayani kebutuhan untuk program konservasi PKT, tapi juga memasok berbagai pesanan dari pemerintah, lembaga, maupun perusahaan lain di Kota Bontang," ungkapnya.

Artinya, dari unit usaha tersebut, kelompok Kimasea pun mampu mencapai kemandirian yang diikuti kesejahteraan para anggota, hingga memasuki exit strategy di awal 2022.

Hal ini menunjukkan, perluasan manfaat program bisa dikembangkan ke wilayah lain dan pemberdayaan masyarakat nelayan terealisasi secara merata di Kota Bontang.

Meskipun, para binaan telah memasuki exit strategy, pihaknya tidak langsung melepas pendampingan. Menurutnya, mereka tetap mendapatkan manfaat melalui maintenance program yang difasilitasi berbagai pengembangan.

Salah satunya, dukungan peralatan selam bagi anggota kelompok, seperti Buoyancy Compensator Device (BCD), scuba tank, diving regulator, wetsuit hingga kompresor pengisi scuba tank.

"Bantuan ini ditujukan agar kelompok Kimasea makin memaksimalkan monitoring konservasi terumbu di perairan Bontang. Sehingga, pembinaan yang telah berjalan memiliki nilai keberlanjutan," ujarnya.

Selama 13 tahun realisasi program, kini terdapat 38 genus karang di seluruh area konservasi PKT dengan pertumbuhan soft coral maupun hard coral relatif normal.

Berita Terkait : Bantu Sukseskan Mudik, DLU Raih Penghargaan Dari Kemenhub

Begitu pula metode transplantasi, terus dikembangkan dengan model terumbu berbentuk kubus dan trapesium. Ia menilai, model ini sangat mendukung perkembangan transplantasi dengan keunggulan masing-masing.

Di antaranya, ikan yang lebih besar untuk model kubus, dan ikan yang lebih banyak untuk model trapesium.

"Dari evaluasi, satu tahun perkembangan terumbu dengan transplantasi mampu mencapai ukuran 40 centimeter," terangnya. Saat ini, pembentukan kelompok baru juga mulai dilakukan dan telah memasuki tahap awal pembinaan.

Sesuai prinsip Environmental, Social and Governance (ESG), sambung dia, perluasan konservasi dan rehabilitasi terumbu akan terus dikembangkan PKT sebagai komitmen perusahaan menjalankan bisnis yang selaras dengan lingkungan.

Selain itu mempertahankan keseimbangan alam dan ekosistem secara kontinyu. Hal ini juga upaya mendorong terwujudnya 17 indikator Sustainable Development Goals (SDGs) dan kemandirian masyarakat melalui konsep pembinaan berkelanjutan.

"Kesejahteraan masyarakat juga fokus dari pengembangan program konservasi terumbu. Jadi, pendampingan akan terus difokuskan dengan memperkuat kapasitas kelompok binaan," pungkas Rahmad. ■